Sorot Jogja – Produksi beras global diprediksi turun pertama kali dalam 11 tahun imbas El Nino, yang diperkirakan akan berdampak besar pada ketahanan pangan dan inflasi di Indonesia. Fenomena cuaca ekstrem ini dapat memicu kekeringan berkepanjangan, mengganggu produksi pertanian, dan memperketat pasokan bahan pokok di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), El Nino yang terjadi saat ini diperkirakan akan semakin menguat dan mencapai kategori sangat kuat pada periode Agustus hingga Oktober 2026. Ini akan menyebabkan curah hujan yang rendah di sebagian besar wilayah Indonesia, terutama di Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.
El Nino juga berpotensi menambah inflasi di Indonesia hingga sekitar 1,87 poin persentase, menjadikan Indonesia sebagai negara dengan dampak terbesar dibandingkan negara-negara lain di Asia Tenggara. Kenaikan harga pangan, terutama beras, minyak goreng, dan komoditas hortikultura lainnya, diperkirakan akan langsung menekan daya beli masyarakat.
Dalam beberapa pekan terakhir, harga beras dan minyak goreng di sejumlah wilayah Indonesia sudah mulai mengalami kenaikan. Jika musim kering berlangsung lebih lama, tekanan harga diperkirakan semakin besar karena hasil panen menurun dan pasokan berkurang. Hal ini diharapkan dapat mengancam stabilitas sosial dan ekonomi di Indonesia, yang mana sekitar 35% pengeluaran rumah tangga dialokasikan untuk kebutuhan pangan.
Pusat Meteorologi Khusus ASEAN (ASMC) juga memperingatkan bahwa Asia Tenggara, termasuk Indonesia, akan mengalami cuaca panas dan kering yang ekstrem, berpotensi meningkatkan risiko kebakaran dan kabut asap lintas batas. Kombinasi cuaca panas dan kekeringan ini akan memperburuk situasi pangan di kawasan tersebut.
Dalam menghadapi ancaman tersebut, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional, Rachmat Pambudy, menyatakan bahwa pemerintah telah menginstruksikan persiapan strategis lintas sektor untuk menghindari krisis pangan. Ini termasuk pengintegrasian data iklim ke dalam proses pengambilan kebijakan, serta pengoptimalan berbagai instrumen pembiayaan untuk mitigasi dampak El Nino.
Dengan meningkatnya ancaman akibat fenomena El Nino, penting bagi semua pihak untuk bersinergi dalam menghadapi tantangan ini. Tanpa intervensi yang terkoordinasi, ancaman El Nino dapat menghambat pencapaian pembangunan nasional dan memicu krisis pangan yang lebih dalam. Produksi beras global diprediksi turun pertama kali dalam 11 tahun imbas El Nino harus menjadi perhatian utama bagi semua pemangku kepentingan.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.
