Sorot JogjaIntel AS: Pemimpin baru Iran lebih berambisi miliki senjata nuklir [titlebase] menjadi perhatian utama dalam beberapa hari terakhir. Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, mengatakan bahwa program nuklir Iran kini tidak lagi menjadi prioritas utama AS dalam perang. Menurut Vance, menurunkan harga bahan bakar untuk konsumen Amerika kini menjadi prioritas utama AS.

Sebelumnya, mencegah Iran memiliki senjata nuklir secara konsisten disebut oleh Presiden AS Donald Trump sebagai alasan utamanya memulai perang. Namun, Vance dalam wawancara terbaru dengan media AS, Fox News, mengatakan bahwa program nuklir Iran kini menjadi prioritas kedua dibandingkan memulihkan kelancaran arus minyak melalui Selat Hormuz, jalur perairan strategis yang terdampak perang.

Baca juga:

Selat Hormuz sebelumnya terbuka bagi kapal-kapal sebelum Trump memulai perang bersama Israel pada akhir Februari. Pernyataan Vance tersebut menggarisbawahi kenyataan pahit bahwa perang kini berpusat pada kendali atas Selat Hormuz, jalur perairan vital untuk pasokan minyak dan gas global.

Iran belajar dari Ukraina untuk tembus pertahanan udara AS. Menurut laporan The New York Times, salah satu caranya adalah mempelajari pola serangan yang digunakan dalam perang Ukraina, terutama saat Rusia mengombinasikan rudal dan drone untuk membuat pertahanan udara kewalahan.

Intelijen AS mengklaim bahwa Iran mengubah strategi pertahanan dengan mengalihkan fokus dari program nuklir ke Selat Hormuz, yang dinilai lebih efektif sebagai alat tekanan geopolitik. Militer AS memperingatkan Presiden Trump bahwa operasi untuk menguasai akses penuh ke Selat Hormuz akan berlangsung lama, menelan biaya besar, berisiko memakan banyak korban.

Baca juga:

Strategi militer Iran dapat ditiru Tiongkok untuk kalahkan AS. Iran berhasil menggunakan teknologi anti-access/area-denial (A2/AD) untuk membatasi ruang gerak Angkatan Laut AS di kawasan tersebut. Kekuatan udara dan laut Iran yang relatif murah–seperti drone, ranjau, dan rudal–membuat risiko terlalu besar bagi Angkatan Laut AS untuk membuka Selat Hormuz atau beroperasi di dekat pantai Iran.

Kesimpulan dari perang antara Amerika Serikat dan Iran adalah bahwa Intel AS: Pemimpin baru Iran lebih berambisi miliki senjata nuklir [titlebase] menjadi perhatian utama dalam beberapa hari terakhir. Strategi perang baru Iran yang fokus pada Selat Hormuz dan teknologi anti-access/area-denial (A2/AD) membuat AS kesulitan dalam menghadapi Iran.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.

Baca juga: