Sorot Jogja – Ketegangan di Timur Tengah semakin meningkat setelah kelompok Houthi di Yaman mengeluarkan ancaman untuk mengepung Arab Saudi buntut serangan Bandara Sanaa. Pada tanggal 16 Juli 2026, pemimpin Houthi, Abdul Malik al-Houthi, menegaskan bahwa seluruh fasilitas minyak dan infrastruktur vital di Arab Saudi akan menjadi sasaran serangan mereka jika Riyadh terus melanjutkan agresi terhadap Yaman. Pernyataan tersebut disampaikan setelah serangan udara yang diluncurkan terhadap Bandara Sanaa, yang merupakan salah satu titik strategis di Yaman.

Al-Houthi menyatakan, “Semua fasilitas minyak dan instalasi vital Arab Saudi adalah target bagi rudal dan drone kami jika negara itu melibatkan dirinya dalam agresi skala penuh terhadap negara kami dan bergerak menuju eskalasi.” Dengan ancaman ini, Houthi ancam kepung Arab Saudi buntut serangan Bandara Sanaa semakin menegaskan ketegangan yang telah ada selama bertahun-tahun.

Baca juga:

Serangan ini merupakan balasan terhadap tuduhan Houthi bahwa Arab Saudi telah menyerang Bandara Sanaa yang dikuasai mereka. Menanggapi serangan tersebut, Houthi meluncurkan rudal ke wilayah Arab Saudi, dengan fokus pada infrastruktur militer dan transportasi. Al-Houthi juga menekankan bahwa jika serangan terus berlanjut, maka bandara di Riyadh akan menjadi target berikutnya.

Pemerintah Yaman yang berbasis di Aden, didukung oleh Arab Saudi, menyatakan bahwa serangan terhadap bandara tersebut dilakukan untuk mencegah pesawat Iran mendarat di Sanaa. Dalam beberapa tahun terakhir, semua pesawat yang ingin memasuki ruang udara Yaman harus mendapatkan izin dari koalisi pimpinan Arab Saudi, yang berfungsi untuk mendukung pemerintahan yang diakui secara internasional.

Sementara itu, situasi semakin kompleks ketika Houthi juga memperingatkan bahwa mereka siap untuk menyerang jalur pelayaran strategis di Laut Merah. Ini menambah kekhawatiran mengenai gangguan pasokan energi global, mengingat bahwa kawasan ini merupakan jalur penting untuk perdagangan internasional.

Baca juga:

Dalam konteks ini, Houthi ancam kepung Arab Saudi buntut serangan Bandara Sanaa menjadi sinyal bahwa konflik ini dapat meluas, dengan potensi dampak yang signifikan terhadap stabilitas kawasan. Serangan rudal yang diluncurkan oleh Houthi di wilayah selatan Arab Saudi menunjukkan bahwa kedua belah pihak berpotensi terlibat dalam eskalasi yang lebih luas, yang dapat mengganggu keamanan regional.

Di sisi lain, Turki juga mengecam keras serangan rudal Houthi terhadap Arab Saudi, menyatakan solidaritasnya dengan Riyadh dan menyerukan kepada semua pihak untuk menahan diri. Komentar ini menunjukkan bahwa konflik ini tidak hanya berdampak pada Yaman, tetapi juga menarik perhatian negara-negara tetangga yang khawatir akan spillover dari ketegangan yang ada.

Serangan yang terjadi di Bandara Sanaa dan balasannya dari Houthi menjadi tanda bahwa gencatan senjata yang telah berjalan sejak tahun 2022 mungkin telah berakhir. Utusan PBB, Hans Grundberg, juga mengimbau semua pihak untuk menahan diri agar tidak menambah ketegangan yang dapat memicu siklus kekerasan baru di Yaman.

Baca juga:

Saat ini, peta kontrol di Yaman terbagi antara Houthi yang menguasai ibu kota Sanaa dan sebagian besar wilayah utara, sementara pemerintah Yaman beroperasi dari wilayah selatan. Konflik yang telah berlangsung selama lebih dari satu dekade ini terus menciptakan krisis kemanusiaan yang mendalam, dengan jutaan orang terpaksa mengungsi dan mengalami kelaparan akut.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.