Sorot Jogja – Ketegangan semakin memuncak di Federasi Sepakbola Italia (FIGC) setelah keputusan kontroversial mengenai pelatih Timnas Italia, yang melibatkan nama besar seperti Andrea Pirlo. Sejak pengunduran diri Paolo Maldini sebagai direktur teknik FIGC, situasi di dalam tubuh federasi semakin tidak stabil.
Paolo Maldini, legenda AC Milan, baru saja diangkat sebagai direktur teknik FIGC pada bulan Juli 2026. Namun, hanya 16 hari setelah penunjukan tersebut, Maldini memilih untuk mundur dari jabatannya. Alasan utama di balik keputusan tersebut adalah perubahan kesepakatan mengenai kewenangan pemilihan pelatih Timnas Italia, yang semula dijanjikan kepada Maldini oleh Presiden FIGC, Giovanni Malagò. Dalam wawancara yang dilakukan dengan media, Maldini menyatakan bahwa saat menerima jabatan, dia mendapatkan kepercayaan untuk memilih pelatih tim nasional, tetapi kemudian kesepakatan itu diubah.
Salah satu kandidat utama yang diinginkan Maldini adalah Andrea Pirlo, mantan gelandang yang juga pernah memimpin Juventus sebagai pelatih. Namun, pencalonan Pirlo ditolak oleh Malagò karena statusnya sebagai duta perusahaan judi asal Rusia, Fonbet. Hal ini menjadi salah satu faktor utama yang mendorong Maldini untuk mundur, meskipun ia menyatakan bahwa tidak ada hal yang secara hukum menghalangi Pirlo untuk menjadi pelatih kepala tim nasional.
Situasi semakin rumit ketika klub-klub Serie A juga menyuarakan ketidakpuasan mereka terhadap keputusan Malagò. Mereka merasa tidak dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan yang dianggap krusial bagi masa depan sepakbola Italia. Beberapa pemimpin klub, termasuk Ezio Simonelli dan Giuseppe Marotta, menyatakan kekecewaan mereka terhadap metode yang digunakan oleh Malagò dalam menentukan pelatih. Meskipun telah ada pernyataan dukungan untuk Roberto Mancini sebagai pelatih, perpecahan antara klub-klub dan federasi tampak semakin nyata.
Selain itu, Maldini juga mengungkapkan bahwa Pep Guardiola sempat dipertimbangkan untuk mengambil alih posisi pelatih Timnas Italia. Guardiola bahkan sudah mempelajari tim dari level junior dan menyusun kemungkinan formasi. Namun, keinginan itu tidak terwujud karena Guardiola lebih memilih untuk menghabiskan waktu bersama keluarganya.
Dengan situasi yang semakin memanas, banyak pihak mulai mempertanyakan masa depan Giovanni Malagò sebagai presiden FIGC. Jika ketidakpuasan di antara klub-klub Serie A terus berlanjut, ada kemungkinan bahwa mereka akan mengambil langkah lebih jauh untuk menantang kepemimpinannya. Saat ini, fokus utama adalah bagaimana federasi dan klub-klub dapat bersatu demi kepentingan sepakbola Italia, terutama dalam mempersiapkan tim untuk kompetisi mendatang.
Dengan berbagai dinamika ini, nasib Andrea Pirlo sebagai calon pelatih Timnas Italia tampaknya semakin tidak pasti, dan masa depan sepakbola Italia sedang berada di persimpangan yang krusial.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.
