Sorot Jogja – Perjuangan Shireen Sungkar dampingi putrinya yang didiagnosis autisme, jalani terapi 5 kali seminggu [titlebase], telah menjadi perjalanan emosional yang penuh tantangan. Sebagai seorang ibu, Shireen mengungkapkan berbagai kekhawatiran dan rasa takutnya mengenai masa depan putrinya, Sofia, yang merupakan anak autis. Dalam beberapa wawancara, Shireen mengisahkan betapa sulitnya menghadapi kenyataan bahwa putrinya membutuhkan perhatian dan perawatan khusus.
Shireen awalnya merasa diliputi kecemasan dan keraguan. Ia sering mempertanyakan dirinya sendiri, “Apakah aku sudah menjadi ibu yang cukup baik untuk Sofia? Apa yang akan terjadi di masa depan?” Rasa takut tersebut sering kali membuatnya menangis, terutama ketika membayangkan kehidupannya tanpa sang putri. “Tiap hari aku nangis kayak kenapa ya Abi? Nanti kalau aku meninggal gimana?” ungkap Shireen dengan nada penuh haru.
Ketakutan terbesar Shireen adalah ketika ia tidak lagi bisa berada di sisi Sofia. Ia khawatir putrinya tidak akan memiliki orang yang dapat mendampingi dan membantunya menjalani kehidupan. “Entar Sofia sama siapa? Entar kalau dia enggak bisa ngapa-ngapain sendiri gimana?” lanjutnya, mengekspresikan kerisauan yang mendalam.
Namun, seiring berjalannya waktu dan melalui terapi yang dijalani Sofia, Shireen mulai merasakan perubahan yang positif. Terapi yang dijalani Sofia sebanyak lima kali seminggu tidak hanya membantu perkembangan komunikasinya, tetapi juga membawa harapan baru bagi Shireen. Sofia kini semakin lancar berbicara, dan hal ini memberikan rasa syukur yang mendalam bagi Shireen.
“Setelah melalui berbagai kekhawatiran, aku menemukan rasa syukur yang besar dari setiap perkembangan kecil Sofia,” ujar Shireen. Perubahan ini membuatnya menyadari bahwa perjalanannya mendampingi putrinya adalah sebuah amanah yang harus dijalani dengan penuh cinta.
Nasehat dari suaminya juga berperan penting dalam mengubah pola pikir Shireen. Ia belajar untuk melihat Sofia sebagai anak yang istimewa dan mampu, bukan sebagai beban. “Allah ngasih anak spesial ini ke kamu, berarti Allah tahu kamu tuh mampu untuk jadi ibunya,” kata suaminya yang menjadi penguat semangat bagi Shireen.
Dengan dukungan keluarga dan terapis, Shireen kini lebih fokus pada perkembangan dan kebahagiaan Sofia. Ia berharap bisa terus menemani dan mendukung putrinya dalam setiap langkah yang diambilnya. “Setiap kemajuan yang Sofia capai adalah kebahagiaan bagi kami sebagai orang tua,” tutup Shireen.
Perjuangan Shireen Sungkar dampingi putrinya yang didiagnosis autisme, jalani terapi 5 kali seminggu [titlebase] merupakan sebuah kisah yang menginspirasi banyak orang. Melalui ketekunan dan cinta, Shireen menunjukkan bahwa dengan dukungan yang tepat, anak-anak dengan kebutuhan khusus pun bisa meraih kemajuan.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.
