Sorot Jogja – Nilai tukar rupiah kembali mengalami pelemahan menuju level Rp 18.109, kasus ini diduga jadi sentimen negatif yang memengaruhi stabilitas mata uang Indonesia. Pada perdagangan hari ini, rupiah dibuka melemah ke angka Rp 17.879 per dolar AS, mencerminkan ketidakpastian yang terjadi di pasar global khususnya yang berkaitan dengan situasi geopolitik di Timur Tengah.
Ketegangan yang meningkat antara Iran dan Amerika Serikat (AS) terkait pembukaan kembali Selat Hormuz telah menjadi salah satu faktor utama yang mengganggu pergerakan rupiah. Menurut Muhammad Amru Syifa dari Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), ketidakpastian geopolitik ini berpotensi memengaruhi pasokan serta harga energi, yang pada akhirnya berdampak pada perekonomian Indonesia.
Kekhawatiran pasar juga semakin bertambah setelah Iran dilaporkan mengajukan enam syarat kepada AS untuk pembukaan kembali Selat Hormuz. Syarat tersebut mencakup penghentian ancaman terhadap pemimpin tertinggi Iran, penarikan kekuatan militer AS dari kawasan, dan pencabutan sanksi yang selama ini menghambat perekonomian Iran.
Selain faktor eksternal, pergerakan rupiah juga dipengaruhi oleh data inflasi terbaru dari AS yang menunjukkan adanya kenaikan 0,1 persen secara bulanan dan 3,4 persen secara tahunan. Data ini sejalan dengan ekspektasi pasar, namun tetap menimbulkan dampak negatif bagi mata uang lokal. Dalam sepekan terakhir, rupiah konsisten bergerak di bawah level Rp 18.000 per dolar AS, meskipun mengalami fluktuasi.
Pada Rabu (12/8/2026), nilai tukar rupiah tercatat di level Rp 17.870-an per dolar AS. Namun, pada hari yang sama, rupiah melemah 16 poin atau 0,09 persen menuju posisi Rp 17.877 per dolar AS. Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyatakan bahwa dinamika konflik yang terus berlanjut di Timur Tengah memicu ketidakpastian yang membuat pergerakan rupiah semakin tertekan.
Selat Hormuz, yang merupakan jalur penting bagi pengiriman minyak dunia, memasok sekitar 20 persen dari total pasokan global sebelum konflik dimulai. Penutupan jalur ini dapat menyebabkan lonjakan harga minyak dan memengaruhi inflasi di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Rupiah lanjutkan pelemahan menuju level Rp 18.109, kasus ini diduga jadi sentimen negatif yang dipicu oleh ketidakpastian geopolitik dan kondisi ekonomi global. Dolar AS yang menguat juga menambah beban pada mata uang Garuda, membuatnya semakin sulit untuk bertahan di bawah level Rp 18.000 per dolar AS.
Dengan terus berlanjutnya ketegangan di Timur Tengah dan dampak dari kebijakan ekonomi AS, prospek jangka pendek bagi rupiah tampaknya belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Para pelaku pasar diharapkan untuk tetap waspada dan memantau perkembangan situasi ini secara terus-menerus.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.
