Sorot Jogja – Ketegangan di Timur Tengah semakin meningkat setelah kelompok Houthi mengancam untuk menyerang infrastruktur vital Saudi. Dalam beberapa pekan terakhir, serangan terhadap kapal dan fasilitas minyak Saudi semakin sering terjadi, menimbulkan kekhawatiran akan eskalasi lebih lanjut dalam konflik yang telah berlangsung bertahun-tahun ini.

Pada Selasa (11/8/2026), satu warga negara Indonesia (WNI) dilaporkan tewas akibat serangan Houthi terhadap kapal kargo MV Tihamah. Houthi mengklaim bahwa kapal tersebut membawa persenjataan milik Arab Saudi, meskipun klaim ini belum mendapat konfirmasi dari otoritas Saudi. Kementerian Luar Negeri Indonesia mengonfirmasi insiden tersebut dan saat ini sedang berusaha untuk memverifikasi kematian WNI tersebut.

Baca juga:

Serangan ini merupakan bagian dari rangkaian konflik yang lebih luas di Yaman, di mana Houthi, yang mendapat dukungan dari Iran, telah melakukan berbagai aksi militer melawan pasukan yang didukung Saudi. Houthi juga mengklaim telah menyerang kapal pengangkut peralatan militer Saudi di Selat Bab al-Mandab, yang menyebabkan enam orang tewas dan sepuluh lainnya terluka. Dalam pernyataannya, Houthi mengungkapkan bahwa mereka telah meluncurkan serangan rudal balistik dan drone ke posisi pasukan Saudi, menargetkan konsentrasi pasukan dan gudang senjata.

Konflik di Yaman dimulai pada 2014 ketika Houthi merebut ibu kota Sanaa, memaksa pemerintah yang diakui secara internasional untuk melarikan diri ke Saudi. Sejak saat itu, perang sipil di Yaman telah menewaskan ribuan orang dan menyebabkan krisis kemanusiaan yang parah. Dalam konteks ini, ancaman Houthi untuk menyerang infrastruktur vital Saudi dapat memperburuk situasi yang sudah sangat rumit dan memicu tanggapan militer lebih lanjut dari Riyadh.

Pada Minggu (9/10/2026), Houthi juga mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap kilang minyak Aramco di Jizan, Saudi, yang memicu kebakaran di fasilitas tersebut. Serangan ini dianggap sebagai balasan terhadap operasi militer Saudi di provinsi Saada dan Hajjah, yang selama ini menjadi medan pertempuran sengit.

Baca juga:

Houthi mengklaim bahwa serangan mereka sangat presisi dan menyebabkan kerugian besar bagi pasukan Saudi. Juru bicara militer Houthi, Brigadir Jenderal Yahya Saree, menegaskan bahwa tindakan ini merupakan bagian dari strategi mereka untuk membalas agresi yang terus berlanjut dari Saudi.

Seiring dengan meningkatnya ketegangan ini, banyak pihak mulai mempertanyakan dampak dari serangan-serangan yang terus dilakukan Houthi terhadap infrastruktur vital Saudi. Jika serangan ini berlanjut dan menyasar lebih banyak fasilitas energi, dampaknya tidak hanya akan dirasakan oleh Arab Saudi, tetapi juga oleh pasar energi global dan stabilitas politik di kawasan Timur Tengah.

Ketegangan yang meningkat ini menunjukkan bahwa Houthi tidak hanya berfokus pada kemenangan di medan perang, tetapi juga berusaha untuk mempengaruhi kebijakan luar negeri Saudi dengan menargetkan infrastruktur yang vital. Dengan ancaman Houthi untuk menyerang infrastruktur vital Saudi, dunia kini lebih memperhatikan perkembangan konflik ini yang berpotensi meluas dan mempengaruhi stabilitas regional.

Baca juga:

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.