Sorot Jogja – Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali menghangat, menyebabkan perang AS-Iran kembali guncang dunia, harga minyak meroket 17 persen hingga ancam krisis energi. Pada Senin, 20 Juli 2026, harga minyak dunia Brent melonjak melewati angka $90 per barel, mencerminkan ketegangan yang meningkat di Timur Tengah yang berdampak langsung pada pasar energi global.
Lonjakan harga ini dipicu oleh serangkaian serangan militer yang dilancarkan oleh AS terhadap target-target Iran setelah tewasnya dua personel militer AS di Yordania. Dalam serangan sembilan malam berturut-turut, militer AS menargetkan fasilitas pengawasan pantai dan sistem pertahanan udara Iran, yang dianggap mengancam jalur distribusi minyak utama di Selat Hormuz.
Menurut laporan, harga minyak Brent untuk pengiriman September naik sekitar 2,27% menjadi lebih dari $90 per barel, sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Agustus menguat 2,4% menjadi $84,49. David Roche dari Quantum Strategy mengungkapkan bahwa pasar minyak global semakin ketat, dan jika tren ini berlanjut, cadangan minyak akan menipis secara signifikan, bahkan mempengaruhi AS.
Ketegangan yang meningkat juga disebabkan oleh serangan balasan dari Iran yang menggunakan drone untuk menyerang pangkalan AS di Kuwait. Serangan ini merupakan bagian dari respon Iran terhadap serangan yang dilakukan AS, yang telah menewaskan beberapa prajurit mereka. Situasi ini memicu kekhawatiran akan terjadinya perang terbuka yang lebih luas di kawasan tersebut.
Selat Hormuz, jalur vital yang mengangkut sekitar 20% pasokan minyak dunia, kini berada di ambang ketidakpastian. Serangan-serangan yang terjadi di wilayah ini dapat mengganggu distribusi energi global dan memicu lonjakan harga yang lebih tajam. Sejumlah analis pasar memperkirakan bahwa jika serangan terhadap kapal tanker meningkat, harga minyak bisa terus meroket karena pemilik kapal akan enggan memasuki wilayah rawan konflik.
Dalam menghadapi situasi ini, Arab Saudi telah mengambil langkah untuk mengalihkan lebih dari 70% ekspor minyak mentahnya ke Pelabuhan Yanbu di Laut Merah untuk mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz. Langkah ini diharapkan dapat menstabilkan pasokan energi regional, meskipun ketegangan antara AS dan Iran masih jauh dari kata selesai.
Presiden AS, Donald Trump, juga menghadapi tekanan politik baru akibat meningkatnya harga minyak ini. Dengan latar belakang konflik yang terus berkobar, banyak pihak yang khawatir bahwa perang AS-Iran kembali guncang dunia, harga minyak meroket 17 persen hingga ancam krisis energi akan memicu konsekuensi yang lebih luas di pasar global.
Pasar energi kini bersiap menghadapi potensi guncangan harga yang lebih besar. Kejadian terbaru ini menunjukkan betapa rentannya stabilitas energi global di tengah ketegangan geopolitik yang terus meningkat.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.
