Sorot Jogja – USS Abraham Lincoln (CVN-72), kapal induk yang telah mencetak rekor untuk penugasan tak terputus di laut, kini resmi meninggalkan kawasan Timur Tengah setelah 266 hari beroperasi. Keputusan ini diambil di tengah laporan mengenai kesehatan mental yang memburuk dan kekurangan pasokan yang dialami oleh awak kapal. Kapal induk ini telah menjadi sorotan utama, baik di kalangan media maupun di kalangan politisi, terkait dengan kondisi para pelaut yang terpaksa berlayar tanpa henti.
USS Abraham Lincoln berlayar dari pangkalannya di San Diego pada bulan November 2025, dengan tujuan awal untuk menjalani misi selama tujuh bulan di wilayah Indo-Pasifik. Namun, dengan meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran, masa penugasannya diperpanjang, dan para pelautnya harus menghadapi tekanan yang semakin berat. Sejak akhir Februari, ketika konflik dengan Iran mulai memanas, para awak kapal terpaksa beroperasi tanpa singgah di pelabuhan mana pun, yang memicu kekhawatiran tentang kesehatan fisik dan mental mereka.
Menurut laporan dari keluarga awak kapal, banyak pelaut yang mengalami kelelahan yang parah dan masalah kesehatan mental. Kondisi ini diperburuk oleh kurangnya pasokan makanan dan perlengkapan kebersihan. Meski demikian, pejabat tinggi Angkatan Laut AS, termasuk Acting Secretary of the Navy Hung Cao, menyatakan bahwa sejumlah kecil kasus kesehatan mental telah ditangani tanpa ada kehilangan jiwa. Mereka juga menegaskan bahwa meski pasokan segar tidak tersedia, semua kebutuhan makanan tetap dipenuhi.
Pergeseran ini terjadi ketika USS George Washington, kapal induk yang berbasis di Jepang, tiba untuk menggantikan USS Abraham Lincoln. Kedatangan USS George Washington diumumkan oleh Komando Pusat AS (CENTCOM) pada 20 Agustus 2026. Laksamana Brad Cooper, kepala CENTCOM, sebelumnya telah menegaskan bahwa para awak yang telah menjalani penugasan panjang tersebut berhak mendapatkan waktu istirahat yang layak. Dia menyampaikan harapan agar para pelaut dapat segera kembali ke rumah dan menikmati reuni dengan keluarga mereka.
Konflik yang berkepanjangan dan penugasan yang semakin lama menimbulkan kritik dari berbagai pihak, termasuk anggota parlemen yang meminta pertanggungjawaban Kementerian Pertahanan AS tentang kondisi di USS Abraham Lincoln. Para kritikus menyoroti bahwa penugasan yang berkepanjangan dapat mengganggu kesehatan mental para pelaut dan berpotensi merusak kesiapan operasional kapal. Sementara itu, Presiden Donald Trump cenderung meremehkan masalah ini, menyebutkan bahwa para pelaut telah menjalani masa penugasan yang baik dan diingatkan bahwa di masa lalu mereka pernah berada di laut lebih lama dari itu.
Dengan selesainya masa penugasan USS Abraham Lincoln, kini perhatian tertuju pada langkah selanjutnya yang akan diambil oleh Angkatan Laut AS. Akan tetapi, tantangan terkait kesehatan mental dan kesejahteraan awak kapal masih menjadi isu yang perlu ditangani dengan serius. Perubahan formasi kapal induk ini bukan hanya sekadar pergantian tugas, tetapi juga refleksi dari tantangan yang dihadapi oleh militer modern dalam menjalankan operasi yang semakin kompleks dan memerlukan perhatian lebih terhadap kesejahteraan personelnya.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.
