Sorot Jogja – Dalam sebuah insiden tragis di Kabupaten Muratara, Sumatera Selatan, kecelakaan antara bus ALS dan truk tangki BBM mengakibatkan 19 orang kehilangan nyawa. Sosok Candra, direktur bus ALS, kini menjadi tersangka dalam kecelakaan maut ini, yang bukan merupakan insiden pertama bagi perusahaan yang dipimpinnya.

Kecelakaan terjadi pada tanggal 6 Agustus 2026, saat bus yang mengangkut penumpang dari Palembang menuju Jakarta bertabrakan dengan truk tangki yang dikemudikan oleh Shandy Hermanto, direktur PT Sinar Bumi Pertiwi. Dalam kecelakaan ini, total 19 korban jiwa dilaporkan, menambah daftar panjang kecelakaan yang melibatkan bus ALS.

Baca juga:

Shandy Hermanto, yang juga merupakan Kepala Desa Belani, telah ditetapkan sebagai tersangka namun sering mangkir dari panggilan penyidik. Dalam dua kesempatan, ia tidak hadir meskipun diwakili oleh kuasa hukumnya. Polisi pun mengancam akan melakukan penjemputan paksa jika Shandy terus mengabaikan panggilan.

Kasat Lantas Polres Muratara, AKP M Abdul Karim, menyatakan bahwa Shandy hanya diwakili oleh pengacara pada pemanggilan sebelumnya dan saat pemanggilan kedua pada 11 Agustus 2026, Shandy kembali tidak hadir. Pengacara Shandy menjelaskan bahwa kliennya sedang berada di luar kota untuk urusan pekerjaan.

Sementara itu, Candra Lubis, direktur bus ALS, telah memenuhi panggilan polisi pada 5 Agustus 2026 dan tidak ditahan karena dianggap kooperatif. Candra menjadi sorotan karena perusahaannya terlibat dalam kecelakaan fatal ini, yang merupakan yang pertama kali bagi bus ALS dalam beberapa tahun terakhir. Namun, sejarah keselamatan bus ALS tampaknya menjadi perhatian utama, mengingat reputasi yang terbangun dari insiden-insiden sebelumnya.

Baca juga:

Dalam pernyataan terpisah, Candra menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas kejadian tersebut dan berjanji akan bekerja sama dengan pihak kepolisian untuk mengungkap fakta di balik kecelakaan ini. Ia menegaskan bahwa keselamatan penumpang adalah prioritas utama dan menghimbau kepada semua pihak untuk tidak melakukan spekulasi sebelum penyelidikan selesai.

Sementara itu, masyarakat setempat dan keluarga korban meminta keadilan dan penegakan hukum yang tegas terhadap pihak-pihak yang bertanggung jawab. Beberapa warga bahkan menggelar aksi damai untuk mendukung penegakan hukum yang adil dalam kasus ini.

Dengan banyaknya pertanyaan yang belum terjawab dan rasa sakit yang mendalam di hati keluarga korban, kasus kecelakaan maut ini menjadi sorotan media dan publik. Sosok Candra, direktur bus ALS tersangka kecelakaan maut di Muratara, bukan laka bus yang pertama, menjadi simbol dari kebutuhan mendesak untuk meningkatkan keselamatan transportasi di Indonesia.

Baca juga:

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.