Sorot Jogja – Perang yang berlangsung antara Amerika Serikat (AS) dan Iran telah menciptakan situasi yang mengkhawatirkan, terutama dalam hal persediaan amunisi militer AS. China dan Rusia waspada saat amunisi AS terkuras dalam perang Iran, berpotensi jadi peluang strategis bagi keduanya. Dalam lima bulan terakhir, AS telah mengeluarkan ribuan rudal presisi dan sistem pertahanan udara yang berharga untuk melawan Iran, sehingga mengakibatkan kekurangan besar dalam stok senjata mereka.

Menurut laporan internal Pentagon, lebih dari 80 persen dari stok rudal pencegat THAAD telah habis, bersama dengan setengah dari persediaan rudal Patriot. Ini merupakan masalah kritis yang tidak hanya membatasi kemampuan serangan AS, tetapi juga mengancam pertahanan sekutu-sekutu mereka di kawasan Teluk. Situasi ini jelas menunjukkan bahwa kondisi militer AS saat ini dalam keadaan rentan, yang memberikan kesempatan bagi Rusia dan China untuk meningkatkan pengaruh mereka di kawasan tersebut.

Baca juga:

Dengan pengalihan alutsista dan rudal pertahanan dari Asia dan Eropa ke Timur Tengah, banyak analis memperkirakan bahwa keputusan strategis Moskwa dan Beijing akan dipengaruhi oleh menipisnya amunisi AS. Tom Karako, Peneliti Senior di Center for Strategic and International Studies (CSIS), menegaskan bahwa pemusnahan generasi terhadap sarana pencegahan konvensional ini akan berdampak signifikan pada perhitungan keputusan kedua negara tersebut.

Perang ini juga telah meluas hingga ke perairan Laut Mediterania. Serangan drone yang menghantam pelabuhan Damietta di Mesir memicu ancaman terhadap stabilitas perdagangan global, terutama di sekitar Terusan Suez yang sangat penting. Ancaman ini, bersamaan dengan eskalasi dari kelompok Houthi di Yaman, telah meningkatkan ketegangan di kawasan yang dianggap sebagai benteng pertahanan selatan NATO.

Para sekutu AS di Teluk, seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, mulai merasa khawatir dengan menipisnya persediaan senjata AS. Mereka takut bahwa ketidakcukupan sistem pertahanan udara dapat mengarah pada serangan balasan yang sukses dari Iran. Kekhawatiran ini semakin mendalam ketika Presiden Trump menunda rencana serangan balasan ke Iran akibat peringatan dari pejabat militer mengenai risiko kehabisan amunisi.

Baca juga:

Dengan kondisi ini, China dan Rusia tidak hanya melihat peluang untuk memperkuat posisi mereka, tetapi juga untuk berkolaborasi lebih erat dalam menghadapi AS. Dalam beberapa tahun terakhir, kedua negara telah memperkuat hubungan militer dan ekonomi, dan situasi ini bisa menjadi momentum bagi mereka untuk mengambil langkah lebih agresif di panggung global.

China Rusia waspada saat amunisi AS terkuras dalam perang Iran, berpotensi jadi peluang strategis untuk meningkatkan pengaruh mereka di kawasan yang penuh ketegangan. Dalam jangka panjang, ini dapat mengubah dinamika kekuatan di Timur Tengah dan memberikan tantangan baru bagi kebijakan luar negeri AS. Menurut analis, ketergantungan sekutu-sekutu AS pada perlindungan mereka dapat berujung pada kerentanan yang lebih besar jika AS tidak mampu memenuhi kebutuhan akan amunisi dan dukungan pertahanan.

Dengan semua faktor ini, jelas bahwa perang antara AS dan Iran bukan hanya masalah regional, tetapi telah menjadi isu global yang melibatkan banyak kepentingan strategis, termasuk yang dimiliki oleh China dan Rusia. Kita dapat mengharapkan bahwa dalam waktu dekat, ketegangan ini akan terus meningkat dan mempengaruhi stabilitas di seluruh kawasan.

Baca juga:

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.