Sorot Jogja – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali memanas setelah Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengeluarkan peringatan keras terkait kesepakatan damai yang melibatkan Selat Hormuz. Pernyataan ini muncul sebagai respons terhadap pernyataan provokatif dari Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, yang mengancam pemimpin tertinggi Iran.

Dalam sebuah wawancara yang disiarkan melalui media sosial, Araghchi menegaskan pentingnya AS untuk mematuhi perjanjian awal yang telah disepakati, yang mengharuskan Washington untuk mengendalikan tindakan Israel. “Aturan dalam Perjanjian Islamabad itu sangat jelas. Presiden AS harus membungkam ‘hewan peliharaannya’ di Tel Aviv. Jika mereka tidak mematuhi, Iran akan memberikan pelajaran,” ujarnya pada Rabu (1/7/2026).

Baca juga:

Ketegangan ini berakar dari pernyataan Katz pada 29 Juni 2026, di mana ia menegaskan bahwa pemimpin Iran, Mojtaba Khamenei, telah menjadi target utama. Katz juga menuduh Iran mencoba memanfaatkan dialog dengan AS untuk mendapatkan keuntungan. Peringatan ini membuat situasi semakin tegang, mengingat ancaman yang terus dilontarkan.

Araghchi menekankan bahwa setiap ancaman terhadap rakyat dan pemimpin Iran akan dibalas dengan keras. Hal ini mencerminkan semakin mendalamnya konflik antara kedua negara, di mana Iran merasa terancam oleh tindakan dan pernyataan Israel yang terus menerus.

Sejak beberapa waktu lalu, hubungan antara Iran dan AS semakin memburuk, terutama setelah pembatalan perjanjian nuklir yang pernah ada. Ketidakpastian ini menyebabkan Iran merasa bahwa mereka perlu mengambil sikap tegas. Dalam konteks ini, peringatan Araghchi menjadi sinyal bahwa Iran tidak akan tinggal diam terhadap setiap provokasi yang dilakukan oleh Israel.

Baca juga:

Dalam situasi yang semakin kompleks ini, Araghchi mendorong AS untuk mengingat kesepakatan yang telah dibuat sebelumnya dan menegaskan kembali komitmennya untuk menciptakan stabilitas di kawasan tersebut. “Kami tidak ingin berkonflik, tetapi kami juga tidak akan membiarkan diri kami terancam,” tambahnya.

Dengan latar belakang ketegangan yang terus meningkat ini, Iran ngamuk sentil keras AS, Menlu Araghchi beri peringatan singgung kesepakatan damai Selat Hormuz. Ini menunjukkan bahwa Iran tetap berpegang pada prinsip-prinsip yang telah disepakati dan tidak akan ragu untuk menanggapi setiap provokasi yang mengancam kedaulatan mereka.

Dalam jangka panjang, situasi ini dapat mempengaruhi stabilitas wilayah dan mengancam jalur perdagangan internasional yang melintasi Selat Hormuz, yang merupakan salah satu jalur perdagangan paling penting di dunia. Oleh karena itu, penting bagi semua pihak untuk mencari solusi damai agar ketegangan ini tidak berlarut-larut.

Baca juga:

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.