Sorot Jogja – Fenomena El Niño kembali menjadi sorotan, terutama menjelang musim tanam di berbagai belahan dunia. Dengan dampak yang signifikan terhadap cuaca dan pertanian, El Niño diperkirakan akan memicu sejumlah tantangan baru bagi petani dan masyarakat, terutama di daerah-daerah yang sudah rentan terhadap kekeringan dan kelaparan.

Dalam program kesadaran pertanian yang diadakan di Patnam Rythu Seva Kendra, Kadiri Mandal, para petani dilatih tentang mitigasi dampak El Niño dan pengelolaan kekurangan curah hujan. Dr. Sampath Kumar, Direktur ANGRAU, bersama Dr. BV Bhaskar Reddy, ilmuwan utama ARS, memberikan rekomendasi untuk penggunaan pupuk yang tepat, termasuk penyemprotan 500 gram seng terikat per acre untuk jagung yang mengalami defisiensi seng dan semprotan foliar 1% KNO3 untuk kacang tanah yang mengalami stres kelembapan.

Baca juga:

Di sisi lain, Program Pangan Dunia (WFP) memperingatkan bahwa fenomena El Niño yang kuat dapat menyebabkan hampir 50 juta orang tambahan mengalami kelaparan akut hingga akhir tahun 2027. Laporan tersebut mengindikasikan bahwa 274 juta orang di 45 negara rentan diperkirakan akan menghadapi krisis pangan akut, dengan kawasan Amerika Tengah dan selatan Afrika menjadi yang paling terdampak.

Andrew Tukana, Sekretaris Permanen Kementerian Pertanian dan Sumber Daya Air, menyatakan bahwa mereka terus memantau dampak El Niño dan akan menyesuaikan intervensi sesuai kebutuhan. Ia menekankan pentingnya konservasi air dan menyarankan petani untuk mengumpulkan air hujan selama periode curah hujan yang masih ada.

Menurut para ilmuwan, El Niño yang akan datang, yang diperkirakan menjadi ‘Super El Niño’, diharapkan akan membawa musim dingin yang lebih basah di bagian barat AS dan mungkin akan memicu banjir. Dengan intensifikasi fenomena ini, California, misalnya, diprediksi memiliki peluang 70%-100% untuk mengalami curah hujan di atas rata-rata.

Baca juga:

Di banyak negara, dampak El Niño berpotensi memperburuk situasi pangan yang sudah rumit akibat konflik dan perubahan iklim. Dr. Joel Lisonbee dari Universitas Colorado menyatakan bahwa meskipun El Niño tidak akan sepenuhnya menghapus kekeringan di barat daya AS, dampaknya terhadap curah hujan dan kondisi tanah akan sangat signifikan.

Fenomena ini tidak hanya berdampak pada pertanian tetapi juga menciptakan risiko yang lebih besar bagi ketahanan pangan global. Di kawasan selatan Afrika, misalnya, dampak dari El Niño diperkirakan akan terasa lebih dalam pada musim paceklik 2027-2028.

Dengan semakin mendekatnya fenomena El Niño, penting bagi petani dan masyarakat untuk tetap waspada dan siap menghadapi kemungkinan dampak yang akan ditimbulkan. Pelatihan, penyuluhan, dan dukungan dari pemerintah serta organisasi internasional menjadi kunci untuk memitigasi risiko yang dihadapi dalam menghadapi tantangan yang ditimbulkan oleh perubahan iklim dan fenomena alam ini.

Baca juga:

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.