Sorot Jogja – Nunukan, Kalimantan Utara, menjadi sorotan dengan berbagai isu yang mengemuka, terutama terkait pendidikan dan kesehatan masyarakat. Dalam beberapa tahun terakhir, Pemkab Nunukan telah berupaya meningkatkan kualitas pendidikan melalui Program Sekolah Enuma Indonesia (SEI) yang memberikan manfaat bagi ribuan anak-anak di kawasan perbatasan. Program ini diharapkan dapat dilanjutkan untuk menjaga kesinambungan pembelajaran anak-anak, yang selama ini mengalami keterbatasan akses pendidikan.
H Muhammad Amin, Asisten I Setkab Nunukan, menyatakan bahwa keberhasilan program ini telah mengubah kemampuan literasi dan numerasi ratusan anak. Di bawah program ini, empat Taman Baca Masyarakat (TBM) di daerah tersebut telah memberikan dampak positif, membantu anak-anak yang sebelumnya tertinggal dalam belajar untuk mengejar ketertinggalan mereka. Menurutnya, anak-anak di wilayah perbatasan kini mampu mendekati kemampuan teman-teman mereka yang menempuh pendidikan formal.
Namun, di balik kemajuan dalam bidang pendidikan, masyarakat Nunukan juga menghadapi tantangan serius dalam akses kesehatan. Di Desa Wa’ Yagung, Krayan, pemandangan memilukan terlihat ketika warga harus menandu orang sakit menembus hutan dan naik turun bukit untuk mencapai Puskesmas Pembantu (Pustu). Perjalanan ini bisa memakan waktu hingga delapan jam, dan sangat bergantung pada tradisi gotong royong masyarakat yang tetap terjaga.
Camat Krayan Timur, Marjuni, menjelaskan bahwa sulitnya akses jalanan di daerah tersebut, terutama saat musim hujan, membuat mobilitas masyarakat menjadi sangat terbatas. Masyarakat harus rela meninggalkan aktivitas sehari-hari mereka untuk membantu tetangga yang sakit, mengungkapkan betapa ironisnya kehidupan mereka di perbatasan yang seharusnya mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah.
Di sisi lain, momen hari pertama masuk sekolah di Pulau Sebatik juga menjadi sorotan. Dalam sebuah video yang viral, seorang kakek terlihat menggendong cucunya melewati banjir untuk memastikan anaknya dapat pergi ke sekolah. Momen ini mencerminkan dedikasi dan cinta kasih orang tua yang rela berjuang demi pendidikan anak-anak mereka, meskipun harus melewati rintangan yang cukup berat.
Seiring dengan itu, aktivitas di Pelabuhan Liem Hie Djung, Nunukan, juga meningkat. Pada tanggal 14 Juli 2026, sepuluh armada speedboat beroperasi melayani rute Nunukan ke Tarakan. Dengan waktu tempuh sekitar tiga jam, banyak masyarakat yang memanfaatkan moda transportasi ini untuk beraktifitas. Kepala Seksi Operasional Pelayanan Kepelabuhanan Nunukan, Alexander, memastikan bahwa semua armada telah siap untuk melayani tingginya mobilitas masyarakat.
Dengan berbagai tantangan dan perjuangan yang dihadapi, Nunukan menunjukkan semangat yang tinggi untuk terus berkembang. Masyarakat setempat berharap agar perhatian dan dukungan dari pemerintah dapat terus mengalir, baik dalam bidang pendidikan maupun kesehatan, demi meningkatkan kualitas hidup mereka.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.
