Sorot JogjaBahrain kelabakan diserang drone Iran, markas besar AS remuk: Ancaman yang terang-terangan! Pada tanggal 28 Februari 2026, Iran melancarkan serangan rudal yang menargetkan markas Armada Kelima Angkatan Laut AS di Manama, Bahrain. Serangan ini disebut sebagai balasan atas serangan AS dan Israel. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran menyatakan bahwa serangan rudal dan drone menargetkan infrastruktur militer AS di Juffair, Bahrain, serta sistem radar pengawasan udara jarak jauh dan radar pengawasan maritim di Oman. Pihak AS tidak segera mengumumkan kerusakan yang ditimbulkan oleh serangan ini.

Menurut laporan media nasional Iran, IRIB, serangan rudal dan drone menargetkan fasilitas militer Amerika Serikat di Bahrain serta sistem radar di negara tetangganya, Oman. IRGC menyatakan bahwa satu-satunya cara untuk membuka kembali Selat Hormuz bagi lalu lintas maritim adalah jika Amerika Serikat mengakhiri campur tangan militernya di jalur perairan strategis tersebut dan menghormati kedaulatan negara-negara pesisir. IRGC juga memperingatkan bahwa aktivitas militer AS yang berkelanjutan di Selat Hormuz akan memicu “insiden yang lebih besar” yang dapat memengaruhi sektor minyak dan gas dunia.

Baca juga:

Klaim terbaru ini muncul di tengah meningkatnya aksi saling serang antara Iran dan Amerika Serikat setelah serangkaian serangan terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz. Sebelumnya, pada Minggu, IRGC mengumumkan penutupan Selat Hormuz bagi lalu lintas maritim hingga pemberitahuan lebih lanjut. Adapun pada Juni, Iran dan Amerika Serikat menandatangani nota kesepahaman yang dimediasi Pakistan dengan tujuan mengakhiri konflik militer dan mencapai perjanjian damai yang bersifat permanen. Namun, menyusul eskalasi terbaru, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa nota kesepahaman dengan Iran tersebut telah "berakhir".

Baca juga:

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.

Baca juga: