Sorot Jogja – Seruan protes ke Amerika bergema saat peti jenazah Ali Khamenei tiba di Mashhad, di mana ribuan pelayat menghadiri pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Iran tersebut pada hari Kamis (9/7/2026). Pemakaman ini berlangsung setelah lebih dari empat bulan penundaan akibat situasi keamanan yang mencekam menyusul serangan udara gabungan oleh Amerika Serikat dan Israel yang menewaskan Khamenei dan sejumlah anggota keluarganya.
Peti jenazah Khamenei, yang dibawa menggunakan truk, disambut oleh lautan manusia berpakaian hitam yang berkumpul di kompleks makam Imam Reza, situs suci bagi umat Muslim Syiah. Dalam suasana haru, pelayat meneriakkan slogan-slogan kebencian terhadap Presiden AS, Donald Trump, menuduhnya sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kematian Khamenei. “Hai, Trump! Kami akan membunuhmu,” teriak mereka, mencerminkan kemarahan dan rasa kehilangan yang mendalam.
Prosesi pemakaman Khamenei diawali di Ibu Kota Teheran pada tanggal 3 Juli dan dilanjutkan dengan perjalanan menuju kota suci di Irak, seperti Qom, Najaf, dan Karbala, sebelum akhirnya kembali ke Mashhad. Selama perjalanan tersebut, ribuan pelayat dari Iran dan Irak mengikuti prosesi untuk memberikan penghormatan terakhir. Media melaporkan bahwa nyaris empat juta orang hadir di Karbala untuk mengenang pemimpin yang telah lama menguasai Iran ini.
Di tengah kerumunan yang merayakan pemakaman, ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat. Sehari setelah pemakaman, serangan baru dilaporkan terjadi, menewaskan setidaknya 17 orang. Iran mengklaim bahwa mereka telah membalas serangan tersebut dengan menyerang aset-aset milik AS di kawasan Teluk. Seruan protes ke Amerika bergema saat peti jenazah Ali Khamenei tiba di Mashhad, menambah suasana tegang yang sudah ada antara kedua negara.
Putra Khamenei, Mojtaba, yang diharapkan hadir dalam upacara tersebut, tidak terlihat. Ia dikhawatirkan akan menjadi target serangan lanjutan dari pihak lawan. Hal ini menunjukkan betapa seriusnya situasi keamanan di Iran setelah kematian Khamenei, dan kekhawatiran akan kemungkinan serangan selanjutnya.
Pemakaman Khamenei bukan hanya sekedar peristiwa bersejarah bagi Iran, tetapi juga menjadi simbol kekuatan ideologi negara yang kuat di tengah konflik yang berkepanjangan dengan Amerika Serikat. Kepemimpinan ulama Iran mendorong masyarakat untuk menghadiri prosesi tersebut, menggambarkan pemakaman ini sebagai momen bersatunya bangsa Iran melawan ancaman eksternal.
Dengan pemakaman Khamenei, Iran memasuki fase baru dalam sejarahnya, yang mungkin akan menghadapi tantangan dan perubahan yang signifikan. Politisi dan pemimpin Iran menyerukan solidaritas di tengah ketegangan regional yang semakin meningkat, menjadikan pemakaman Khamenei sebagai titik fokus dari sentimen anti-Amerika yang mendalam di kalangan rakyat Iran.
Seruan protes ke Amerika bergema saat peti jenazah Ali Khamenei tiba di Mashhad, mencerminkan betapa dalamnya perasaan kemarahan dan duka yang melanda bangsa Iran. Pemakaman ini tidak hanya menjadi penghormatan terakhir bagi seorang pemimpin, tetapi juga menggambarkan ketegangan yang terus membara dalam hubungan Iran dengan Barat, khususnya Amerika Serikat.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.
