Sorot Jogja – Polres Jakut ungkap teror molotov di Koja, dipicu sakit hati duel masa lalu. Dua pelaku pelemparan bom molotov di Koja, Jakarta Utara, telah ditangkap, sementara satu pelaku lainnya masih dalam pengejaran. Penangkapan ini dilakukan setelah serangkaian penyelidikan yang intensif oleh pihak kepolisian.

Peristiwa pelemparan bom molotov terjadi pada Senin, 22 Juni 2026, sekitar pukul 09.00 WIB, di Jalan Mandiri II, Kelurahan Rawa Badak Selatan. Aksi tersebut mengakibatkan seorang pengendara motor terjatuh akibat syok dan bagian depan kendaraannya terbakar. Dari hasil penyelidikan, diketahui bahwa aksi teror tersebut sebenarnya salah sasaran, dengan pelaku yang bernama M merasa tidak terima mantan istrinya, R, memiliki kekasih baru yang bernama U.

Baca juga:

Motif pelaku pelemparan molotov ini diduga berasal dari rasa sakit hati akibat perselisihan yang terjadi sebelumnya. Pihak kepolisian menyebutkan bahwa pelaku M bersama dua rekannya, H dan MT, merakit bom molotov di area pembuangan sampah sebelum melakukan aksinya. Saat mencoba menyerang target mereka, satu bom molotov yang dilempar justru mengenai seorang ibu yang sedang membonceng anaknya.

Wakil Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Metro Jakarta Utara, AKP Bima Sakti Pria Laksana, mengungkapkan bahwa pelaku H dan MT sudah ditangkap, sementara pelaku D masih dalam pencarian. H ditangkap di kawasan Cipinang Bali, Jakarta Timur, dan MT ditangkap di Cilincing, Jakarta Utara. Ketiga pelaku dijerat dengan pasal berlapis, termasuk penganiayaan, perusakan, dan kepemilikan senjata tajam, dengan ancaman hukuman maksimal sembilan tahun penjara.

Baca juga:

Polres Jakut ungkap teror molotov di Koja, dipicu sakit hati duel masa lalu, menunjukkan bahwa tindakan kekerasan dapat berakibat fatal dan merugikan banyak orang. Polisi terus melakukan penyelidikan untuk menangkap pelaku yang masih buron dan mencegah kejadian serupa di masa depan.

Pihak kepolisian mengimbau kepada masyarakat untuk tidak melakukan tindakan kekerasan dan selalu menyelesaikan masalah dengan cara yang damai. Kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya komunikasi yang baik dalam menyelesaikan konflik, serta dampak buruk dari balas dendam yang dapat merugikan banyak pihak.

Baca juga:

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.