Sorot Jogja – Dalam perkembangan kasus keracunan massal yang melibatkan 543 orang di Jayapura, Badan Gizi Nasional (BGN) telah mengidentifikasi dugaan penyebab keracunan tersebut. Dugaan tersebut merujuk pada tempe bacem yang dimasak terlalu dini, yang berpotensi menjadi salah satu faktor utama terjadinya insiden ini.

Kepala BGN, Sudaryono, mengungkapkan bahwa insiden keracunan ini berlangsung pada 4 Agustus 2026, setelah para korban menyantap makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kasih Iman Samuel Papua (KISP) di Depapre. Korban keracunan meliputi balita, anak-anak, remaja, ibu hamil, dan lansia, yang kemudian dilarikan ke sejumlah rumah sakit dan puskesmas untuk mendapatkan perawatan.

Baca juga:

“Dari hasil investigasi awal, diketahui bahwa pengelolaan makanan, khususnya dalam proses memasak dan penyimpanan, tidak dilakukan dengan baik. Kami menemukan bahwa tempe bacem yang disajikan mungkin sudah terkontaminasi atau tidak dimasak dengan benar,” ungkap Sudaryono.

Selain itu, kelalaian dalam menyimpan bahan makanan juga menjadi sorotan. BGN menemukan bahwa ikan yang digunakan dalam menu MBG di beberapa daerah, termasuk Kabupaten Karo, Sumatera Utara, dibiarkan pada suhu ruangan selama lebih dari 12 jam. Hal ini menambah daftar masalah yang harus diatasi dalam program MBG yang bertujuan untuk memberikan makanan bergizi kepada anak-anak.

Dalam peristiwa yang terjadi di Karo, keluhan yang muncul dari para siswa meliputi mual, muntah, dan diare. Sudaryono menegaskan bahwa sanksi akan dijatuhkan kepada pihak-pihak yang terbukti lalai dalam pengelolaan makanan. “Kami akan melakukan pemecatan terhadap kepala SPPG yang bersangkutan dan menutup dapur untuk investigasi lebih lanjut,” tambahnya.

Lebih jauh, Bupati Jayapura, Yunus Wonda, juga menekankan pentingnya menjaga kebersihan dapur dan bahan makanan. Ia mengatakan, “Kami berharap kasus ini menjadi peringatan bagi semua pihak yang terlibat dalam program MBG untuk memastikan bahwa setiap makanan yang disajikan aman dan tidak membahayakan kesehatan.”

Baca juga:

BGN juga bekerja sama dengan pihak kepolisian untuk menyelidiki kemungkinan adanya unsur pidana dalam kasus keracunan ini. Sudaryono menegaskan komitmennya untuk transparan selama proses hukum berlangsung.

Program MBG seharusnya menjadi inisiatif yang positif dalam memenuhi kebutuhan gizi anak-anak, namun insiden ini menunjukkan bahwa prosedur operasional standar (SOP) harus dipatuhi dengan ketat. Sudaryono mengingatkan, “Kami mengimbau kepada semua pihak untuk tidak membagi makanan dari sekolah untuk dibawa pulang, demi menghindari risiko keracunan yang dapat terjadi.”

Kasus keracunan massal ini bukanlah yang pertama kali terjadi dalam program MBG. Sebelumnya, insiden serupa juga dilaporkan di Riau dan Magelang, di mana penyebab keracunan bervariasi, mulai dari kontaminasi bakteri hingga kelalaian dalam penyimpanan makanan. BGN temukan dugaan penyebab keracunan massal MBG di Jayapura: tempe bacem dimasak terlalu dini [titlebase] menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak untuk memperbaiki sistem dalam penyajian makanan bergizi bagi anak-anak.

Dengan adanya insiden ini, diharapkan semua pihak dapat lebih berhati-hati dan bertanggung jawab dalam pengelolaan makanan yang disediakan untuk anak-anak, agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan.

Baca juga:

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.