Sorot Jogja – Presiden Republik Indonesia ke-7, Joko Widodo (Jokowi), baru-baru ini menerima gelar adat di Kedaton Keagungan, Lampung, dalam sebuah prosesi yang diwarnai dengan ritual menginjak kepala kerbau. Kegiatan ini berlangsung selama safari politik Jokowi di Provinsi Lampung dari 26 hingga 28 Juni 2026. Ritual tersebut menarik perhatian publik, memicu beragam tanggapan dan interpretasi mengenai makna di baliknya.

Ritual injak kepala kerbau merupakan bagian dari tradisi Cakak Pepadun, yang telah lama ada dalam budaya masyarakat Lampung. Menurut pengamat komunikasi politik dari Universitas Lampung, Feri Firdaus, prosesi ini bukanlah hal baru, melainkan simbol yang telah disepakati oleh komunitas adat. Ia menekankan bahwa ritual ini berkaitan dengan legitimasi kepemimpinan dan kesiapan untuk memikul amanah. Feri menambahkan bahwa makna simbol dalam politik seringkali dapat ditafsirkan berbeda-beda, tergantung pada konteks dan publik yang menerima.

Baca juga:

Jokowi terima gelar adat di Kedaton Keagungan, jalani ritual injak kepala kerbau ini juga diinterpretasikan oleh beberapa kalangan sebagai simbol politik. Beberapa pihak menilai bahwa tindakan tersebut menunjukkan ambisi Jokowi untuk menaklukkan suara di Lampung pada Pemilu 2029 mendatang, apalagi mengingat latar belakang politiknya yang berkait dengan Partai Gajah atau PSI dan Partai Banteng atau PDI Perjuangan.

Politikus dari PDI Perjuangan, Guntur Romli, mengungkapkan bahwa ritual ini mencerminkan cara Jokowi membangun identitas kepemimpinannya. Menurutnya, kepemimpinan Jokowi dibangun melalui konsep yang disebut ‘the triangle of authoritarian populism’, dengan menggabungkan elemen feodalisme, populisme, dan kekuasaan sebagai tujuan utama. Guntur menilai bahwa prosesi ini memperkuat kesan bahwa Jokowi berusaha mempertahankan kekuasaan dalam lingkaran keluarganya.

Di sisi lain, pengamat politik Ade Indra Chaniago dari STISIPOL Candradimuka Palembang menyoroti bahwa meskipun gelar adat ini merupakan penghormatan dari masyarakat, perhatian publik seharusnya lebih tertuju kepada kebijakan yang nyata dan berdampak bagi rakyat. Ia menekankan bahwa dalam situasi ekonomi yang sulit, seperti tingginya biaya hidup dan ancaman PHK, tindakan yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat jauh lebih penting daripada simbol-simbol kehormatan.

Baca juga:

Dalam konteks budaya Lampung, Pepadun sebagai singgasana atau kursi adat yang digunakan dalam prosesi pemberian gelar kehormatan memiliki makna yang dalam. Pepadun adalah simbol status sosial dan legitimasi kepemimpinan, serta penanda kehormatan dalam struktur masyarakat adat. Oleh karena itu, tindakan Jokowi yang duduk di atas Pepadun sembari menjalani ritual injak kepala kerbau menambah bobot simbolis dari serangkaian acara ini.

Setiap ritual dan simbol memiliki makna yang kompleks, terutama dalam konteks politik. Jokowi terima gelar adat di Kedaton Keagungan, jalani ritual injak kepala kerbau adalah contoh bagaimana tradisi dan politik dapat saling memengaruhi dan memberikan dampak yang luas terhadap persepsi masyarakat. Dalam pandangan yang lebih luas, penting bagi pemimpin untuk tidak hanya mendapatkan gelar, tetapi juga untuk membuktikan kepemimpinannya melalui tindakan yang nyata dan bermanfaat bagi rakyat.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.

Baca juga: