Sorot Jogja – WARTAPHOTO.NET. PATI – Kabupaten Pati kini berada dalam keadaan siaga terhadap penyakit leptospirosis, setelah mencatatkan lonjakan kasus yang sangat mengkhawatirkan. Pati Siaga Leptospirosis Kasus Melonjak Drastis 21 Warga Meninggal Dunia menjadi perhatian serius Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat. Dalam laporan terbaru, Dinkes Pati mencatat bahwa dari Januari hingga Mei 2026, terdapat 172 kasus leptospirosis, yang mengakibatkan 21 kematian.
Jika ditelusuri, tren kenaikan kasus leptospirosis di Pati menunjukkan angka yang mencolok. Pada tahun 2022, hanya ada 7 kasus, kemudian meningkat menjadi 22 kasus pada tahun 2023. Lonjakan signifikan terjadi pada tahun 2025 dengan 61 kasus, di mana 17 di antaranya berujung pada kematian. Data ini menunjukkan bahwa masyarakat perlu lebih waspada terhadap ancaman penyakit ini.
Yanti, selaku Katim Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Pati, menjelaskan bahwa biasanya kasus leptospirosis meningkat saat musim penghujan. Kelompok yang paling rentan terpapar adalah petani, nelayan, dan pekerja tambak, karena mereka sering berinteraksi dengan lingkungan yang berisiko terkontaminasi urine tikus.
Leptospirosis adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri leptospira yang dapat masuk ke dalam tubuh manusia melalui luka terbuka yang terkena air atau tanah yang terkontaminasi. Selain itu, makanan atau kemasan minuman yang terpapar urine tikus juga dapat menjadi sumber penularan.
Gejala leptospirosis mirip dengan gejala flu, namun ada beberapa tanda khas yang harus diwaspadai:
- Nyeri atau kaku pada otot betis.
- Mata berwarna merah atau kekuningan.
- Penurunan produksi urine, yang menandakan gangguan ginjal pada fase berat.
Dinkes Pati saat ini gencar melakukan sosialisasi kepada masyarakat dan memperkuat deteksi dini di tingkat puskesmas untuk memastikan pasien mendapatkan penanganan yang cepat. Yanti menekankan bahwa kematian akibat leptospirosis sebenarnya dapat dicegah jika pasien segera mendapatkan perawatan yang tepat.
Masyarakat juga diimbau untuk menggunakan alat pelindung diri (APD) seperti sepatu bot saat beraktivitas di sawah atau tambak. Selain itu, menjaga kebersihan lingkungan dan mengendalikan populasi tikus adalah langkah penting untuk mencegah penyebaran penyakit ini. Mengubur atau membakar bangkai tikus yang telah diberi disinfektan dan mencuci tangan serta kemasan makanan sebelum dikonsumsi merupakan tindakan pencegahan yang disarankan.
Pati Siaga Leptospirosis Kasus Melonjak Drastis 21 Warga Meninggal Dunia mengingatkan kita akan pentingnya kewaspadaan dan tindakan preventif dalam menjaga kesehatan. Semua pihak perlu berkolaborasi untuk menanggulangi penyebaran penyakit ini dan melindungi masyarakat dari ancaman yang lebih besar.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.
