Sorot Jogja – Nasib apes menimpa mantan pelatih tim nasional Korea Selatan, Hong Myung-bo, setelah timnya gagal berprestasi di Piala Dunia 2026. Hong Myung-bo dilarang jajan, kafe-kafe di Korea Selatan boikot eks juru taktik Taeguk Warriors sebagai respons terhadap performa buruk timnya yang tersingkir dari turnamen tersebut. Korea Selatan kehilangan kesempatan untuk melanjutkan ke babak knockout setelah kalah dari Afrika Selatan dengan skor 0-1, yang membuat mereka finis di posisi ketiga Grup A.

Tak lama setelah hasil buruk tersebut, Hong Myung-bo mengumumkan pengunduran dirinya dari kursi pelatih. Namun, keputusan ini tidak cukup untuk meredam kemarahan publik yang meluap. Dalam beberapa hari terakhir, berbagai restoran dan kafe di Korea Selatan memasang papan pengumuman yang melarang Hong untuk memasuki tempat mereka. Foto-foto yang menunjukkan larangan tersebut viral di media sosial, mencerminkan kekecewaan masyarakat terhadap kinerja tim nasional.

Baca juga:

Dalam pernyataan perpisahannya, Hong menyatakan bahwa ia selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk masa depan sepak bola Korea. “Selama dua tahun terakhir, saya selalu menanyakan kepada diri sendiri, ‘Apakah ini pilihan yang tepat untuk sepak bola Korea?'” ungkapnya. Meskipun demikian, banyak yang merasa bahwa keputusan taktis yang diambilnya selama turnamen, termasuk mencadangkan bintang utama Son Heung-min, adalah alasan utama di balik kegagalan tim.

Ketidakpuasan publik tidak hanya datang dari kalangan fans, tetapi juga dari pejabat tinggi negara. Presiden Korea Selatan, Lee Jae-myung, mengkritik performa tim nasional dan menuntut investigasi terhadap Asosiasi Sepak Bola Korea (KFA) atas pemilihan Hong Myung-bo sebagai pelatih. Lee menyebut adanya ketidakkompetenan dalam jajaran kepemimpinan sepak bola yang berkontribusi pada hasil buruk ini.

Hong Myung-bo bukanlah nama asing dalam dunia sepak bola Korea. Sebelumnya, ia pernah membawa Korea Selatan melaju ke semifinal Piala Dunia 2002 sebagai kapten tim. Namun, karir kepelatihannya tidak secerah masa bermainnya. Piala Dunia 2026 bukanlah kegagalan pertama baginya, karena dia juga pernah mengalami hal serupa di Piala Dunia 2014.

Baca juga:

Sebelum diumumkan pengunduran dirinya, Hong Myung-bo sempat menjadi sasaran kritikan tajam di media sosial. Bahkan, wajahnya disamarkan saat konferensi pers yang disiarkan di televisi nasional, KBS, sebagai bentuk protes publik. Keputusan ini menambah daftar panjang kritik yang diterimanya. Setelah pengumuman pengunduran diri, banyak pemilik restoran yang merasa kecewa dengan kinerja Hong mulai memasang papan larangan masuk dengan tulisan jelas, “Hong Myung-bo dilarang masuk!”.

Gerakan menempelkan papan larangan ini menunjukkan betapa dalamnya kekecewaan publik terhadap timnas. Beberapa pemilik usaha mengaku bahwa mereka melakukan ini bukan hanya untuk menyampaikan kritik, tetapi juga untuk menghibur pelanggan yang merasa marah dan kecewa.

Dalam konteks yang lebih luas, kegagalan Korea Selatan di Piala Dunia kali ini menyoroti kurangnya kompetensi dalam manajemen dan pemilihan pelatih. Banyak yang berharap agar peristiwa ini menjadi pelajaran bagi KFA dalam melakukan seleksi di masa depan agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Hong Myung-bo dilarang jajan, kafe-kafe di Korea Selatan boikot eks juru taktik Taeguk Warriors sebagai salah satu dampak dari kegagalan ini, menggambarkan betapa besarnya harapan masyarakat terhadap tim nasional mereka.

Baca juga:

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.