Sorot Jogja – Keresahan warga Karanganyar, Jawa Tengah, semakin mengemuka setelah sejumlah masyarakat mengeluhkan minyak goreng subsidi bernama Minyakita yang diduga mengeluarkan aroma menyengat mirip solar. Pengakuan warga Karanganyar usai masak pakai Minyakita bau solar: tenggorokan saya langsung sakit menjadi tema hangat di kalangan warga dan media.
Salah satu warga, Epri, menceritakan pengalamannya setelah menggunakan Minyakita untuk menggoreng bakwan. Ia merasa ada yang tidak beres dengan minyak tersebut, “Punyaku iya min, kemarin nyoba goreng goreng bakwan kerasa banget, selain itu di tenggorokan langsung sakit. 4 liter baru kepakai sedikit, setelah itu disuruh kembalikan ke kelurahan,” ungkapnya dengan nada kecewa.
Tidak hanya Epri, keluhan serupa juga disampaikan oleh Suminem, seorang lansia berusia 68 tahun. Ia mengalami kejadian yang lebih menyedihkan setelah memasak singkong goreng. “Rasanya pahit, singkong dibuang,” katanya. Suminem menegaskan bahwa minyak goreng yang diterimanya berwarna pekat dan keruh, sangat berbeda dari minyak yang pernah ia terima sebelumnya.
Menanggapi keluhan yang semakin meluas ini, Tim Satuan Tugas (Satgas) Pangan Kabupaten Karanganyar melakukan sidak ke produsen Minyakita pada Kamis (25/6/2026). Sidak tersebut melibatkan Dinas Perdagangan Perindustrian dan Tenaga Kerja, Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan, serta kepolisian. Kepala Dinas Perdagangan, Agung Wahyu Utomo, menyatakan bahwa sidak bertujuan untuk klarifikasi masalah yang muncul terkait minyak goreng bantuan pangan dari Bulog.
Agung menjelaskan, “Kami akan melakukan uji laboratorium terhadap minyak goreng yang diproduksi untuk mengetahui kandungannya. Tentu kami menunggu hasil uji tersebut untuk memastikan apakah minyak ini berisiko atau tidak.” Tim juga memeriksa seluruh proses produksi, mulai dari bahan baku hingga pengemasan.
Warga pun kini dihadapkan pada dilema. Di tengah kondisi ekonomi yang sulit, kebutuhan akan minyak goreng yang aman dan berkualitas sangatlah penting. Namun, laporan tentang Minyakita yang berbau solar dan menyebabkan tenggorokan sakit membuat banyak warga memilih untuk mengembalikan produk tersebut.
Situasi ini semakin diperparah dengan kekhawatiran akan dampak kesehatan jangka panjang akibat penggunaan minyak goreng yang diduga bermasalah. Banyak warga yang merasa terpaksa harus membuang makanan yang sudah dimasak, seperti yang dialami Suminem.
Warga Karanganyar kini berharap agar pihak berwenang segera mengambil tindakan tegas dan memastikan bahwa produk bantuan yang mereka terima aman untuk digunakan. Kejadian ini juga menjadi pengingat pentingnya pengawasan terhadap produk pangan yang beredar di masyarakat.
Pengakuan warga Karanganyar usai masak pakai Minyakita bau solar: tenggorokan saya langsung sakit menjadi sorotan utama, dan diharapkan dapat mendorong perbaikan dalam sistem distribusi dan kontrol kualitas minyak goreng subsidi di masa mendatang.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.
