Sorot Jogja – Survei terbaru menunjukkan bahwa lebih dari setengah konsumen yang berbelanja secara online melalui aplikasi e-commerce mengalami masalah serius terkait produk kedaluwarsa. Hasil dari survei yang dilakukan oleh Times Now Digital mengungkapkan bahwa lebih dari 52% responden melaporkan telah menerima barang yang sudah melewati tanggal kedaluwarsa atau mendekati masa kadaluarsa saat memanfaatkan layanan pengiriman cepat. Temuan ini semakin menegaskan pentingnya mekanisme kontrol kualitas yang lebih kuat di sektor ini.

Dalam beberapa tahun terakhir, layanan cepat atau quick commerce telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat India, dengan jutaan orang mengandalkannya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti belanja bahan makanan. Namun, seiring dengan meningkatnya popularitas aplikasi ini, keluhan mengenai produk yang diterima tanpa informasi jelas tentang tanggal produksi atau kedaluwarsa semakin banyak terdengar. Hal ini menciptakan pertanyaan besar: seberapa jauh kepercayaan konsumen terhadap platform-platform ini?

Baca juga:

Survei yang dilakukan oleh Times Now Digital menyoroti kekhawatiran akan kesegaran produk. Dari hasil yang diperoleh, sekitar 33,5% responden melaporkan menerima produk yang hampir kedaluwarsa, sementara 18,9% mengaku telah menerima produk yang sudah kedaluwarsa. Bersama-sama, angka ini mencakup lebih dari 52% responden, menunjukkan bahwa lebih dari satu dari dua pengguna mengalami masalah serupa.

Menariknya, sekitar 27,9% responden lainnya menyatakan bahwa mereka tidak menggunakan aplikasi quick commerce sama sekali, menandakan bahwa ada segmen konsumen yang masih enggan beralih ke model pengiriman yang berkembang pesat ini. Hal ini menunjukkan adanya kebutuhan mendesak untuk penerapan kontrol kualitas yang lebih baik, seperti audit stok yang teratur, rotasi inventaris yang lebih baik, dan transparansi informasi tentang tanggal kedaluwarsa dalam daftar produk.

Ketidakpuasan konsumen ini juga tidak hanya menjadi perhatian bagi pelanggan, tetapi juga bagi pihak berwenang. Pada 11 Juli, Badan Pengawas Keamanan Pangan dan Standar India (FSSAI) mengeluarkan sembilan pemberitahuan kepada Swiggy Instamart setelah menerima sejumlah keluhan tentang pengiriman makanan yang sudah kedaluwarsa, busuk, dan terkontaminasi melalui platform tersebut.

Baca juga:

Sementara itu, di bidang kesehatan, pembukaan pusat kesehatan baru di Summerside diharapkan dapat meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan kesehatan. Pusat Kesehatan Komunitas Summerside, yang resmi dibuka pada 30 Juli dengan biaya sekitar $30 juta, menggabungkan berbagai layanan kesehatan dalam satu lokasi, termasuk konseling kesehatan mental dan rehabilitasi jantung dan paru-paru. Direktur Operasional Kesehatan Utama Health P.E.I. menjelaskan bahwa memiliki berbagai fasilitas dalam satu bangunan memungkinkan kolaborasi yang lebih baik untuk mendukung kesejahteraan pasien.

Dengan pertumbuhan populasi di Summerside, pusat kesehatan baru ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan yang semakin meningkat dalam masyarakat, serta menarik lebih banyak profesional kesehatan untuk bekerja di daerah tersebut. Dengan adanya fasilitas ini, diharapkan masyarakat dapat dengan lebih mudah mengakses layanan kesehatan yang mereka butuhkan tanpa harus berpindah tempat.

Dengan begitu banyak isu yang muncul di sektor e-commerce dan kesehatan, baik konsumen maupun penyedia layanan perlu bekerja sama untuk meningkatkan kualitas dan transparansi dalam layanan yang diberikan. Hal ini tidak hanya akan meningkatkan kepercayaan konsumen tetapi juga memastikan bahwa masyarakat mendapatkan akses yang layak terhadap produk dan layanan yang aman dan berkualitas.

Baca juga:

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.