Sorot Jogja – Ekonomi Indonesia semakin tertinggal dari Vietnam, dengan angka pertumbuhan yang mencolok. RI kalah kencang dari Vietnam, ekonom ungkap penyebab utama, di mana pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini hanya mencapai sekitar 5 persen, sedangkan Vietnam melesat hingga 8,3 persen.
Presiden Prabowo Subianto menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat mencapai 8 persen, namun kenyataan menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia masih terjebak di angka moderat. Ekonom senior dari INDEF, Didik J Rachbini, mengungkapkan bahwa salah satu akar masalah dari stagnasi ini adalah kebijakan yang terlalu berorientasi pada pasar domestik.
“Seluruh dinamika dan strategi yang digulirkan pemerintah dinilai hanya mengandalkan pasar domestik, konsumsi warga, serta penguasaan sumber daya internal. Hal ini tidak cukup untuk mendorong pertumbuhan di atas 5 persen,” ungkap Didik. Ia menambahkan bahwa kebijakan yang terlalu inward looking ini tidak memberikan ruang bagi sektor luar negeri untuk berperan sebagai mesin utama dalam transformasi industri nasional.
Belanja pemerintah dan konsumsi rumah tangga selama ini dianggap tidak memadai untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. APBN lebih berfungsi sebagai penyangga jangka pendek agar ekonomi tidak jatuh lebih dalam, terutama di tengah tekanan dari sisi penerimaan dan pengeluaran. Selain itu, daya dorong konsumsi masyarakat juga semakin melemah akibat menyusutnya kelas menengah.
“Faktor konsumsi masyarakat sudah tidak bisa diandalkan karena kelas menengah sudah tergerus dan menurun jumlahnya sehingga menghambat pertumbuhan ekonomi,” tambah Didik. Untuk itu, agar dapat mengejar pertumbuhan 7-8 persen, orientasi kebijakan perlu dialihkan menjadi lebih outward looking.
Dalam konteks yang lebih luas, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa Indonesia juga kalah bersaing dalam menarik investasi, terutama saat perang dagang AS-China. Bahlil menjelaskan bahwa pada periode 2016-2017, banyak perusahaan yang memilih untuk pindah dari China ke Vietnam, sementara Indonesia tidak mendapatkan bagian dari pergeseran tersebut.
Salah satu penyebab utama yang diungkapkan Bahlil adalah tingginya harga tanah di kawasan industri Indonesia yang mencapai Rp 2 juta per meter, jauh lebih mahal dibandingkan dengan harga tanah di Vietnam yang hanya Rp 600 ribu per meter. Hal ini membuat banyak perusahaan lebih memilih Vietnam sebagai tujuan investasi.
Di tengah semua tantangan ini, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia, meskipun melambat, tetap menunjukkan angka yang relatif kuat. Pada kuartal II 2026, Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,29 persen, yang menempatkan negara ini di antara yang tertinggi di ASEAN, meskipun di bawah Vietnam.
“Kita tumbuh sebesar 5,45 persen. Di antara negara-negara lain, termasuk di ASEAN, itu salah satu yang top. Kita kemarin lihat Vietnam yang sedikit di atas kita di 8 persen,” ujar Airlangga. Meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia masih tertekan oleh kondisi global yang tidak menentu, pemerintah berupaya merancang strategi untuk meningkatkan daya saing investasi melalui pembangunan Kawasan Industri Terpadu Batang di Jawa Tengah.
Kesimpulannya, untuk mengejar ketertinggalan dan mencapai target pertumbuhan yang diinginkan, Indonesia perlu melakukan reformasi kebijakan yang lebih berorientasi global dan meningkatkan daya tarik investasi. RI kalah kencang dari Vietnam, ekonom ungkap penyebab utama, menjadi peringatan bagi pemerintah untuk segera mengambil langkah-langkah strategis yang diperlukan.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.
