Sorot Jogja – Di tengah pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 yang sedang berlangsung, Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Semarang menghadapi tantangan serius. Hanya 20 dari 1.000 petugas sensus ekonomi Semarang lolos honor termin pertama, BPS beri klarifikasi mengenai situasi ini.
Sensus Ekonomi 2026 yang dimulai pada 15 Juni hingga 31 Agustus 2026 ini melibatkan lebih dari 251 ribu petugas lapangan di seluruh Indonesia. Namun, di Semarang, kabar mengejutkan muncul ketika 30 tenaga pendata mengundurkan diri dari tugas mereka. Kepala BPS Kota Semarang, Rudi Cahyono, menjelaskan bahwa pengunduran diri ini tidak disebabkan oleh masalah internal, melainkan karena berbagai alasan pribadi, termasuk diterima bekerja di tempat lain dan masalah kesehatan.
“Dari 30 orang yang mundur, sekitar 50 persen mengundurkan diri karena diterima bekerja di tempat lain. Sementara yang lainnya memiliki alasan masing-masing, seperti sakit atau harus merawat orang tua,” ungkap Rudi.
Masalah ini semakin diperparah dengan isu macetnya pembayaran honor bagi para petugas. Rudi menekankan bahwa pihaknya telah mematuhi ketentuan dalam surat perjanjian kerja (SPK) dan tidak ada perubahan dalam kontrak yang telah disepakati. Meskipun begitu, situasi ini menimbulkan kecemasan di kalangan petugas, yang mungkin berkontribusi pada pengunduran diri mereka.
Di sisi lain, Sensus Ekonomi 2026 merupakan bagian penting dalam memotret perekonomian Indonesia pasca-pandemi COVID-19. Dengan perubahan signifikan dalam cara berbisnis yang terjadi, BPS bertujuan untuk mendapatkan data yang akurat mengenai pelaku usaha di seluruh Indonesia. Data ini akan membantu dalam merumuskan kebijakan publik yang lebih baik untuk masa depan ekonomi negara.
Namun, proses pendataan ini juga mengalami tantangan, terutama dengan adanya persepsi keliru di masyarakat mengenai tujuan dan metode Sensus Ekonomi. Beberapa pihak mengaitkan Sensus dengan pajak dan pengungkapan data sensitif, padahal BPS menegaskan bahwa kegiatan ini adalah statistik murni yang dilaksanakan setiap sepuluh tahun dengan jaminan kerahasiaan data responden.
Dengan hanya 20 dari 1.000 petugas sensus ekonomi Semarang lolos honor termin pertama, BPS berkomitmen untuk segera mencari pengganti tenaga pendata yang mengundurkan diri. Rudi memastikan bahwa proses pendataan akan terus berjalan meskipun ada tantangan yang dihadapi. “Kami akan terus memanggil dan mengevaluasi tenaga pendata yang ada untuk memastikan semua data dapat dihimpun dengan baik,” ujarnya.
Sensus Ekonomi 2026 tidak hanya sekadar pendataan, tetapi juga merupakan langkah penting untuk memahami dinamika ekonomi yang telah berubah. Dengan banyaknya pelaku usaha baru yang muncul dan cara berbisnis yang semakin modern, data yang akurat dari sensus ini akan menjadi dasar yang kuat bagi pengambilan keputusan di masa mendatang.
Kepala BPS menekankan pentingnya partisipasi masyarakat dalam menyukseskan Sensus Ekonomi 2026 ini. “Kami berharap masyarakat dapat memahami pentingnya pendataan ini dan berpartisipasi aktif,” tuturnya.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.
