Sorot Jogja – AS perkasa di Hormuz, tapi Pasifik Barat kini tanpa kapal induk. Dalam situasi yang semakin memprihatinkan, kapal induk USS Abraham Lincoln yang telah beroperasi selama lebih dari 260 hari di Laut Arab, menghadapi kondisi yang tidak manusiawi. Keluarga para pelaut melaporkan adanya krisis makanan, depresi, dan masalah kesehatan mental yang serius di antara awak kapal. Sementara itu, perang melawan Iran yang berkepanjangan memaksa AS untuk memindahkan kapal induk USS George Washington dari Jepang, meninggalkan Pasifik Barat tanpa kehadiran kapal induk AS.

Presiden AS, Donald Trump, menanggapi laporan mengenai kondisi buruk di USS Abraham Lincoln dengan menyebutnya sebagai berita bohong. Namun, laporan dari para keluarga dan perwakilan militer menunjukkan fakta sebaliknya, di mana para pelaut di kapal tersebut menghadapi jatah makanan yang sangat terbatas, masalah sanitasi, dan tekanan mental yang berat. Kondisi ini semakin diperparah dengan fakta bahwa mereka telah beroperasi tanpa jeda di laut selama berbulan-bulan.

Baca juga:

Situasi serupa terjadi pada kapal perusak USS Benfold yang juga mengalami kerusakan parah di tengah Samudra Pasifik. Sekitar 300 awak kapal harus bertahan selama empat hari tanpa air dan pendingin udara akibat gangguan mesin yang parah. Meskipun mereka selamat, insiden ini menyoroti tantangan yang dihadapi oleh Angkatan Laut AS dalam menjaga kehadiran militer yang efektif di berbagai kawasan.

Kepergian USS George Washington ke Timur Tengah untuk menggantikan USS Abraham Lincoln mengindikasikan bahwa AS kini harus membagi kekuatannya di beberapa front. Hal ini terjadi di tengah peningkatan aktivitas militer China di Pasifik. Greg Poling, Direktur Program Asia Tenggara Center for Strategic and International Studies (CSIS), menilai bahwa keadaan ini akan menguntungkan Beijing, yang kini dapat mengeksploitasi kekurangan fokus dari Washington.

Penting untuk dicatat bahwa meskipun Angkatan Laut AS memiliki 11 kapal induk bertenaga nuklir, tidak semua kapal tersebut dapat dikerahkan secara bersamaan. Kapal yang seharusnya menjadi simbol kekuatan AS di Asia kini terpaksa beroperasi di medan perang yang berbeda, yang menunjukkan betapa perang melawan Iran telah mempengaruhi kemampuan AS untuk mempertahankan kehadirannya di Indo-Pasifik.

Baca juga:

Sementara itu, laporan tentang kesehatan mental awak USS Abraham Lincoln semakin mendesak perhatian. Meskipun pihak Angkatan Laut membantah adanya peningkatan kasus bunuh diri, cerita dari keluarga pelaut menunjukkan adanya penurunan moral dan tekanan psikologis yang signifikan. Situasi ini menjadi gambaran nyata dari tantangan yang dihadapi prajurit AS dalam menjalankan misi yang berkepanjangan dan melelahkan.

Dengan AS perkasa di Hormuz, tapi Pasifik Barat kini tanpa kapal induk, tantangan yang dihadapi oleh Angkatan Laut AS semakin kompleks. Keseimbangan kekuatan di kawasan ini mungkin terancam, dan kebutuhan untuk mengatasi isu-isu kesehatan mental di kalangan prajurit harus menjadi prioritas utama bagi pimpinan Angkatan Laut.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.

Baca juga: