Sorot Jogja – Jakarta – Dalam dunia jurnalistik, wartawan memiliki peran yang sangat penting. Baru-baru ini, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir meraih status Wartawan Utama dari Dewan Pers. Dalam pidato penerimaannya di Universitas Muhammadiyah Jakarta, Haedar menceritakan perjalanan kariernya sebagai wartawan yang dimulai pada tahun 1984 di media Suara Muhammadiyah.
Haedar mengingat kembali masa-masa awalnya sebagai wartawan yang harus berjuang dengan berbagai tantangan. “Saya menjadi wartawan Suara Muhammadiyah tahun 1984. Media ini adalah yang tertua di Indonesia, lahir tahun 1915,” ucapnya. Ia mengenang bagaimana ia berjalan kaki dan menggunakan berbagai moda transportasi untuk mencari berita, serta pengalaman pahit ketika naskah beritanya disobek karena tidak memenuhi standar.
“Pengalaman itu membuat saya menjadi wartawan sejati, bukan sekadar penulis,” kenangnya. Haedar juga mengungkapkan bahwa pengalamannya tersebut membentuk sikapnya yang tidak toleran terhadap wartawan yang menulis secara asal-asalan saat ia menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Suara Muhammadiyah.
Di sisi lain, dunia jurnalistik di Indonesia juga menghadapi tantangan dari pernyataan-pernyataan yang merendahkan profesi wartawan. Anggota DPR Benny K. Harman baru-baru ini menjadi sorotan setelah menyampaikan pernyataan kontroversial kepada wartawan di Kompleks Parlemen. Saat ditanya mengenai ketidakhadiran Presiden keenam RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dalam Sidang Tahunan MPR, Benny melontarkan kalimat yang dianggap merendahkan wartawan, yaitu, “Woi, kau otak kamu ada gak?”.
Pernyataan tersebut menuai kecaman dari Koordinatoriat Wartawan Parlemen (KWP) yang menilai bahwa pertanyaan wartawan adalah bagian dari tugas jurnalistik untuk melakukan konfirmasi ulang. Benny kemudian meminta maaf jika pernyataannya menyinggung pihak tertentu, namun banyak yang merasa bahwa ucapan tersebut mencerminkan sikap yang kurang menghargai profesi wartawan.
Dalam konteks ini, penting untuk menegaskan bahwa wartawan memiliki tanggung jawab besar dalam menyampaikan informasi kepada publik. Dengan berbagai tantangan yang dihadapi, baik dari dalam maupun luar, profesi ini tetap harus dihormati dan dihargai. Keberanian wartawan untuk mengungkapkan fakta dan memberikan informasi yang akurat menjadi kunci dalam menjaga demokrasi dan transparansi.
Perjalanan karir Haedar Nashir sebagai wartawan menunjukkan betapa kerasnya dunia jurnalistik, sementara pernyataan Benny K. Harman menunjukkan betapa pentingnya penghormatan terhadap wartawan. Keduanya menjadi refleksi penting tentang bagaimana wartawan berperan dalam masyarakat dan perlunya saling menghargai antara narasumber dan jurnalis.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.
