Sorot Jogja – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan selama lima hari beruntun, dengan asing banyak memburu saham-saham ini, Selasa (28/7). Penurunan ini menjadi perhatian serius bagi investor, di mana IHSG ditutup pada level 6.091,39, tergelincir 0,64% pada perdagangan Rabu (29/7).

Sejak awal pekan, IHSG menunjukkan tren negatif, dan bahkan tercatat telah merosot hingga 1,85% atau 124,08 poin pada penutupan perdagangan sebelumnya. Menurut analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, pergerakan indeks ini masih tertekan oleh aksi jual yang berkelanjutan, dengan level support yang perlu dicermati pada kisaran 5.970 hingga 6.029.

Baca juga:

Dalam analisisnya, Herditya menyebutkan bahwa jika IHSG mampu berbalik arah dan menguat, ada potensi untuk naik ke kisaran 6.147 hingga 6.219. Namun, saat ini, tekanan jual masih mendominasi pasar. “Kami memperkirakan, area penguatan terdekat berada di level 6.147 hingga 6.219,” ujarnya.

MNC Sekuritas merekomendasikan beberapa saham untuk diakumulasi, di antaranya adalah PT Vale Indonesia Tbk (INCO) dengan target harga di kisaran Rp 5.075 hingga Rp 5.425. Saham lainnya yang dianggap menarik adalah PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), yang diharapkan dapat mencapai target harga Rp 2.820 hingga Rp 3.130.

Pada sisi lainnya, meskipun IHSG turun 5 hari beruntun, investor asing menunjukkan minat yang cukup besar terhadap beberapa saham. Hal ini terlihat dari aksi beli bersih yang dilakukan pada saham-saham tertentu, meskipun secara keseluruhan indeks mengalami penurunan.

Baca juga:

Selain itu, sektor properti juga turut terkoreksi, dengan penurunan mencapai 2,75%, sedangkan sektor teknologi mencatatkan kenaikan sebesar 0,18%. Ini menunjukkan adanya pergeseran minat investor di tengah kondisi pasar yang tidak menentu.

Sementara itu, BFI Finance (BFIN) mencatatkan laba bersih yang signifikan pada kuartal II 2026, melonjak 34% menjadi Rp 475 miliar. Kinerja ini didukung oleh penurunan beban pencadangan dan perbaikan kualitas aset yang menunjukkan tren positif. Laba bersih BFIN di semester I mencapai Rp 829 miliar, tumbuh 8,8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Dengan kondisi ini, banyak investor yang tetap optimis meskipun IHSG turun 5 hari beruntun. Mereka mulai memburu saham-saham yang dianggap memiliki potensi penguatan di masa depan. Investor disarankan untuk tetap memantau pergerakan pasar dan mempertimbangkan rekomendasi dari analis untuk mengambil keputusan yang tepat.

Baca juga:

Seiring dengan terus berlanjutnya fluktuasi pasar, penting bagi investor untuk mengambil langkah yang tepat dan mempertimbangkan analisis dari berbagai sumber sebelum melakukan transaksi. Ini akan membantu dalam meminimalisir risiko dan memaksimalkan peluang di pasar saham yang dinamis ini.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.