Sorot Jogja – Supriyanto lepas jabatan ketua DPC Demokrat Solo, sebut kecewa minimnya perhatian DPP. Keputusan ini diambil setelah lebih dari dua dekade perjalanan karier politiknya dalam membesarkan Partai Demokrat di Kota Solo, Jawa Tengah. Supriyanto mengumumkan pengunduran dirinya yang efektif mulai Rabu (1/7/2026), menandai akhir dari kepemimpinannya yang dimulai sejak 2002.

Dalam pernyataannya, Supriyanto mengungkapkan rasa kecewa yang mendalam terhadap Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrat. Ia merasa bahwa perhatian dan dukungan dari DPP terhadap DPC Demokrat Solo sangat minim, terutama setelah partai kehilangan seluruh kursi DPRD Surakarta pada Pemilu 2019. Keputusan ini bukanlah tindakan mendadak, melainkan hasil dari pertimbangan yang panjang dan menyakitkan.

Baca juga:

Supriyanto menjelaskan, “Prosesnya panjang. Saya merintis Demokrat sejak 2002. Dinamikanya luar biasa, pernah naik, pernah turun sampai sekarang. Setelah Demokrat tidak memiliki kursi DPRD Surakarta, tantangannya semakin berat. Yang kami rasakan, tidak ada perhatian untuk mengembangkan maupun membesarkan Demokrat di Solo.”

Sejak kehilangan kursi DPRD, DPC Demokrat Solo merasa berjuang sendirian tanpa dukungan yang memadai dari pengurus pusat. Hal ini menambah beban bagi Supriyanto dan timnya dalam mempertahankan eksistensi partai di tengah dinamika politik yang semakin kompetitif di kota tersebut.

Supriyanto tetap akan menjadi kader Partai Demokrat meskipun mundur dari jabatannya. Ia menunggu penunjukan pelaksana tugas (Plt) oleh DPP untuk mengisi posisi yang ditinggalkan. Keputusan ini tentunya menjadi sorotan publik, mengingat Supriyanto merupakan salah satu tokoh penting dalam membangun dan mengembangkan Partai Demokrat di Solo.

Baca juga:

Langkah mundur ini bisa jadi menjadi sinyal bagi DPP untuk lebih memperhatikan cabang-cabang partai di daerah, agar kejadian serupa tidak terulang. Supriyanto lepas jabatan ketua DPC Demokrat Solo, sebut kecewa minimnya perhatian DPP, tentu akan menjadi momentum refleksi bagi DPP untuk mengevaluasi kinerjanya dalam memberikan dukungan kepada para kader di daerah.

Sementara itu, sejumlah kader lainnya juga mulai bersuara, mengungkapkan harapan agar DPP dapat lebih aktif dalam memberikan perhatian dan dukungan kepada DPC di seluruh Indonesia. Kekecewaan ini tidak hanya dirasakan oleh Supriyanto, tetapi juga oleh banyak kader lain yang merasa terabaikan.

Dengan pengunduran diri Supriyanto, tantangan bagi Partai Demokrat di Solo semakin berat. Persoalan ini menuntut solusi yang cepat dan tepat dari DPP agar partai dapat kembali bangkit dan mendapatkan kepercayaan dari masyarakat. Di tengah kondisi politik yang fluktuatif, harapan untuk melihat Demokrat kembali kuat di Solo masih ada, asalkan ada perubahan nyata dalam strategi dan dukungan dari pusat.

Baca juga:

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.