Sorot JogjaJAKARTA – Aksi dukung MBG tinggalkan sampah, Monas dan Merdeka Selatan jadi kumuh setelah serangkaian demonstrasi berlangsung di kawasan tersebut. Pada tanggal 22 dan 24 Juni 2026, ratusan orang dari berbagai elemen masyarakat, termasuk mahasiswa dan ibu-ibu, turun ke jalan untuk menyuarakan dukungan atau penolakan terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintah.

Demo pertama berlangsung di Monas, Jakarta Pusat, di mana peserta mengaku menerima uang saku, perlengkapan dapur, serta makanan. Salah satu peserta mengungkapkan bahwa mereka mendapatkan wajan, roti, susu, dan buah-buahan, dengan imbalan Rp100.000. Aksi ini dinilai tidak organik oleh MBG Watch, yang mencatat adanya mobilisasi terorganisir dan dugaan adanya pembayaran untuk menarik massa.

Baca juga:

Selang dua hari kemudian, demonstrasi serupa terjadi di Jalan Medan Merdeka Selatan, di mana massa yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Indonesia menyuarakan dukungan terhadap MBG. Mereka mengkritik pelaksanaan program tersebut dan mengusulkan agar dana dialokasikan untuk sektor pendidikan yang lebih mendesak. Aksi ini berlangsung tertib, namun meninggalkan banyak sampah, termasuk botol plastik dan kemasan makanan, yang segera dibersihkan oleh petugas PPSU setelah massa membubarkan diri.

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, juga mengusulkan agar pasien TBC dimasukkan dalam daftar penerima manfaat MBG untuk membantu pemulihan mereka dengan asupan gizi yang lebih baik. Ia menekankan pentingnya intervensi gizi dalam menangani masalah kesehatan di Indonesia, di mana tingkat kematian akibat TBC masih tinggi.

Dalam konteks ini, MBG Watch mengungkapkan keprihatinan terhadap aksi dukungan MBG yang terkesan dimobilisasi. Isnawati Hidayah, salah satu inisiator dari MBG Watch, menyatakan bahwa aksi tersebut mencerminkan upaya untuk meredam protes masyarakat terhadap program yang dianggap tidak efektif. Laporan dari warga menunjukkan bahwa ada instruksi dan titik kumpul tertentu, menandakan bahwa itu bukanlah aksi spontan.

Baca juga:

Dengan adanya berbagai aksi ini, baik dukungan maupun penolakan terhadap MBG, masyarakat mulai menuntut evaluasi lebih dalam mengenai program tersebut. Mereka berharap agar kebijakan pemerintah lebih tepat sasaran dan dapat memberikan manfaat yang nyata bagi rakyat.

Aksi dukung MBG tinggalkan sampah, Monas dan Merdeka Selatan jadi kumuh, menciptakan tantangan baru bagi pemerintah dalam mengelola program yang seharusnya membawa kebaikan bagi masyarakat. Di tengah kritik dan dukungan yang datang silih berganti, penting bagi pemerintah untuk mendengarkan suara rakyat dan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap MBG.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.

Baca juga: