Sorot Jogja – Jakarta – Isu mengenai Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) kembali menjadi sorotan setelah kecelakaan yang melibatkan mobil pick up KDMP terjadi di Jalan Raya Desa Kaliboyo, Kecamatan Tulis, Kabupaten Batang. Kecelakaan ini menimbulkan banyak pertanyaan di masyarakat, termasuk pernyataan Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, yang mempertanyakan keberadaan KDMP di lokasi yang sulit diakses. Dalam konteks ini, kata Zulhas, ‘Kopdes Merah Putih di gunung: mobil tak bisa naik, masa ada?’ menjadi sangat relevan.
Kecelakaan yang terjadi pada Kamis, 20 Agustus 2026, sekitar pukul 05.59 WIB ini melibatkan sopir bernama Solikhin Asuki (46), yang diduga mengalami kelelahan dan mengantuk. Mobil yang dikemudikannya menabrak pejalan kaki bernama Sumanto (72) dan empat sepeda motor yang terparkir di bahu jalan. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam insiden ini, tetapi kejadian ini memicu kembali diskusi mengenai aksesibilitas dan lokasi KDMP yang sering dipandang tidak ideal.
Dalam program spesial #ZulhasBikinJelas, Zulhas menjelaskan tentang rencana pemerintah yang menargetkan pembangunan lebih dari 35.000 KDMP pada tahun ini sebagai bagian dari rencana pembangunan 82.000 KDMP di seluruh desa. Namun, ia mengakui bahwa mencari lahan yang tepat, terutama di daerah pegunungan, bukanlah hal yang mudah. “Nyari 82.000 lahan untuk tempat koperasi itu juga nggak mudah. Oleh karena itu, tahun ini kita baru bangun 35.000 lebih. Dari 35.000, ada yang di atas gunung. Mungkin sulit cari lahan. Tetapi yang perlu diketahui itu (bangunan) yang di gunung kita tertibkan,” ujarnya.
Selain itu, Zulhas juga menegaskan bahwa KDMP bukanlah supermarket yang hanya berfokus pada penjualan barang. “Koperasi ini tugasnya sebagai infrastruktur pemerintah. Pemerintah kan punya bansos, barang-barang yang disubsidi, bantuan sosial, bunga yang disubsidi, nanti semua itu akan dikelola melalui Koperasi Desa Merah Putih,” jelasnya. Hal ini menjadi penting untuk memahami peran KDMP dalam sistem distribusi bantuan sosial di masyarakat.
Isu KDMP di kawasan pegunungan ini semakin diperkuat dengan adanya kejadian lain yang juga melibatkan KDMP. Baru-baru ini, motor roda tiga milik KDMP menjadi viral setelah terlihat mengangkut buah kelapa sawit. Kepala Desa Y Ngadirejo, Edy Suhendro, meminta maaf dan memberikan klarifikasi bahwa penggunaan motor tersebut adalah untuk membantu warga yang membutuhkan biaya berobat anaknya. “Hasil sawit itu digunakan untuk berobat anaknya, karena waktu itu anaknya sedang sakit,” ungkapnya.
Dalam konteks ini, kata Zulhas mengenai aksesibilitas KDMP di daerah pegunungan kembali mengemuka. “Kopdes Merah Putih di gunung: mobil tak bisa naik, masa ada?” menjadi pertanyaan yang penting untuk dijawab. Kecelakaan di Batang mengingatkan kita akan tantangan yang dihadapi dalam distribusi bantuan dan aksesibilitas layanan di daerah terpencil.
Dengan semua isu ini, penting bagi pemerintah untuk terus berupaya meningkatkan aksesibilitas dan memastikan bahwa KDMP dapat berfungsi dengan baik sebagai infrastruktur untuk mendukung masyarakat, terutama di daerah yang sulit dijangkau. Upaya ini tidak hanya akan mengurangi risiko kecelakaan seperti yang terjadi di Batang, tetapi juga memastikan bahwa masyarakat mendapatkan manfaat maksimal dari program-program yang ada.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.
