Sorot Jogja – Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, secara terbuka menolak rencana damai 15 poin untuk Gaza yang dipimpin oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Penolakan ini muncul menjelang pertemuan penting antara Netanyahu dan menantu Trump, Jared Kushner, yang dijadwalkan berlangsung di Yerusalem. Pertemuan ini dilaksanakan setelah Netanyahu melakukan diskusi langka dengan pejabat Hamas di Kairo, Mesir.
Pertemuan di Kairo, yang terjadi pada 16 Agustus 2026, mempertemukan Netanyahu dengan pemimpin Hamas, Khalil Al-Hayya, dalam konteks upaya untuk mencapai perdamaian di Gaza. Sumber diplomatik menjelaskan bahwa pertemuan tersebut diadakan untuk membahas rencana damai yang diusulkan oleh Trump, yang juga mencakup perlucutan senjata kelompok bersenjata di Gaza.
Netanyahu, yang sedang dalam upaya untuk terpilih kembali pada pemilihan mendatang pada Oktober, mengekspresikan penolakannya terhadap rencana tersebut secara terbuka. Rencana damai yang diusulkan termasuk langkah-langkah bertahap di mana pasukan Israel akan menarik diri dari Gaza bersamaan dengan perlucutan senjata Hamas dan kelompok bersenjata lainnya. Meskipun Hamas menyatakan persetujuannya terhadap rencana tersebut, mereka menegaskan bahwa pelaksanaan kesepakatan ini bergantung pada komitmen Israel untuk menghentikan serangan dan menarik pasukan dari wilayah Gaza.
Rencana damai 15 poin ini bertujuan untuk memberikan solusi jangka panjang bagi konflik yang berkepanjangan antara Israel dan Palestina. Namun, Netanyahu menunjukkan ketidaksetujuannya terhadap pendekatan yang dianggapnya tidak realistis. Sebelumnya, Trump mengklaim bahwa kesepakatan telah dicapai untuk perlucutan senjata total Hamas, namun Netanyahu tetap skeptis terhadap efektivitas rencana tersebut.
Dalam konteks ini, pertemuan antara Kushner dan Hamas menjadi sorotan. Pertemuan ini merupakan yang kedua kalinya bagi Kushner, yang sebelumnya juga berusaha mencapai kesepakatan damai dengan Hamas pada Oktober 2025. Kesepakatan tersebut, yang berhasil menghasilkan gencatan senjata dan pembebasan sandera yang ditahan oleh Hamas, menunjukkan bahwa dialog antara AS dan Hamas mungkin memiliki potensi untuk menghasilkan kemajuan meskipun ada tantangan politik di dalam negeri Israel.
Netanyahu dihadapkan pada tekanan untuk memperlihatkan kekuatan dan ketegasan dalam menghadapi Hamas, terutama menjelang pemilihan mendatang. Penolakan terhadap rencana damai yang dipimpin AS menunjukkan bahwa dia ingin menjaga basis dukungan politiknya yang menuntut tindakan tegas terhadap kelompok militan tersebut. Sementara itu, Trump dan timnya tetap optimis bahwa rencana tersebut dapat diimplementasikan secara bertahap dan menghasilkan stabilitas di wilayah yang bermasalah ini.
Rencana damai 15 poin untuk Gaza yang dipimpin AS [titlebase] tampaknya menghadapi jalan yang terjal. Meskipun ada upaya diplomatik yang dilakukan, perbedaan pandangan antara Netanyahu dan Trump menjadi penghalang signifikan bagi tercapainya kesepakatan yang diharapkan dapat membawa perdamaian bagi kawasan tersebut.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.
