Sorot Jogja – Institut Teknologi Bandung (ITB) kembali mengingatkan masyarakat akan potensi kekeringan yang dapat terjadi saat ini, mirip dengan kondisi yang dialami pada tahun 1998. Dengan adanya fenomena El Niño yang kuat, risiko kekeringan di berbagai wilayah Indonesia semakin meningkat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan kondisi ini akan berlanjut hingga tahun 2027, sehingga penting bagi masyarakat untuk bersiap menghadapi dampaknya.

Pakar dari Pusat Perubahan Iklim ITB, Fikry Purwa Lugina, menjelaskan bahwa kekeringan hidrologis tidak muncul tiba-tiba, melainkan melalui beberapa tahapan. “Berkurangnya curah hujan adalah sinyal awal. Setelah itu, masyarakat harus memantau kelembapan tanah dan debit sungai yang dapat menurun jika kondisi ini berlanjut,” ujarnya. Dengan memahami tahapan ini, masyarakat dapat mengambil langkah-langkah antisipatif yang diperlukan.

Baca juga:

El Niño, yang merupakan fenomena interaksi antara laut dan atmosfer, dapat mengubah pola cuaca dan menyebabkan penurunan curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia. ITB ingatkan potensi kekeringan 1998 bisa terulang saat ini, di mana kurangnya pasokan air dapat berdampak pada pertanian, ketersediaan air bersih, dan bahkan meningkatkan risiko kebakaran hutan.

Ketua Tim Pakar PPI ITB, Dr. Tri Wahyu Hadi, menekankan pentingnya bagi masyarakat untuk tidak hanya fokus pada label ‘El Niño kuat’. Ia menjelaskan bahwa dampak fenomena ini bisa berbeda di setiap wilayah. “Masyarakat harus memahami bagaimana dampak fenomena ini bisa muncul serta sektor mana yang paling berisiko,” tuturnya. Menurutnya, dampak El Niño dapat mengakibatkan menurunnya produksi pertanian, berkurangnya pasokan air, dan meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan.

Untuk itu, ITB mendorong masyarakat untuk melakukan pengelolaan sumber daya air yang lebih baik. Langkah-langkah yang bisa diambil antara lain adalah penanaman sistem resapan air, pemanfaatan teknologi untuk pengelolaan air yang efisien, hingga peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya konservasi air.

Baca juga:

Dalam menghadapi potensi kekeringan ini, kerjasama antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat sangat diperlukan. ITB ingatkan potensi kekeringan 1998 bisa terulang saat ini, dan kesiapan untuk menghadapi kondisi tersebut harus menjadi prioritas. Masyarakat diharapkan dapat mengoptimalkan penggunaan sumber daya air yang ada dan bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.

Secara keseluruhan, fenomena El Niño yang diprediksi berlangsung hingga kuartal pertama tahun 2027 ini harus dihadapi dengan kesungguhan dan kerjasama. Dengan upaya mitigasi yang tepat dan kesadaran akan potensi risiko yang ada, diharapkan masyarakat dapat mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan oleh kekeringan.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.

Baca juga: