Sorot JogjaBengkulu, KOMPAS.com – Suara mesin giling padi yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan petani di Indonesia kini mulai menghilang. Kisah Nurbidin Ahyan, pemilik mesin penggilingan padi di Desa Padang Sialang, Kecamatan Semidang Alas Maras, Kabupaten Seluma, Bengkulu, mencerminkan kondisi ini. Selama puluhan tahun, penggilingan padi menjadi sumber nafkah bagi keluarganya. Namun, dalam enam bulan terakhir, mesin tersebut berhenti beroperasi akibat kelangkaan solar dan perubahan pola hidup petani.

Nurbidin menceritakan, dahulu, saat musim panen tiba, para petani membawa gabah ke penggilingan untuk diolah menjadi beras. Namun, kini, dengan semakin sulitnya mendapatkan solar, operasional mesin menjadi terhambat. Selain itu, banyak petani yang mengubah kebiasaan bertani mereka, yang berdampak pada berkurangnya pasokan gabah ke penggilingan. “Kami terpaksa menutup usaha ini karena tidak ada lagi pelanggan,” ujarnya.

Baca juga:

Sementara itu, di sisi lain, Perum BULOG berkomitmen untuk meningkatkan kualitas beras nasional melalui penggilingan padi. Direktur Utama BULOG, Ahmad Rizal Ramdhani, baru-baru ini melakukan dialog dengan pengusaha penggilingan padi di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Dalam kesempatan tersebut, Rizal menekankan pentingnya menjaga mutu beras dari proses penggilingan hingga distribusi. “Kualitas beras adalah tanggung jawab kita bersama,” katanya.

Rizal juga mengumumkan bahwa mulai tahun 2027, seluruh penggilingan padi yang menjadi mitra BULOG harus memiliki sertifikasi. Kebijakan ini bertujuan untuk memastikan bahwa hanya penggilingan yang memenuhi standar mutu yang dapat menjadi mitra. “Sertifikasi adalah instrumen penting untuk menjamin bahwa beras yang dihasilkan memenuhi persyaratan nasional,” tambahnya.

Namun, pernyataan kontroversial dari Presiden Prabowo Subianto mengenai penggilingan padi juga mencuri perhatian publik. Dalam salah satu pidatonya, Prabowo menyebutkan bahwa satu penggilingan padi dapat meraih keuntungan hingga 2 triliun per bulan. Pernyataan tersebut menuai kritik dan pertanyaan dari berbagai pihak terkait akurasi angka yang disampaikan. Mantan Menteri BUMN, Muhammad Said Didu, mengingatkan pentingnya presisi dalam penyampaian informasi oleh seorang pemimpin, terutama ketika menyangkut data dan angka.

Baca juga:

Dengan berbagai tantangan yang dihadapi, baik dari sisi operasional penggilingan padi maupun kebijakan pemerintah, semakin jelas bahwa sektor ini memerlukan perhatian serius. Kelangkaan solar yang mengganggu operasional, ditambah dengan perubahan pola pertanian, menjadi tantangan bagi keberlangsungan penggilingan padi di Indonesia. Hal ini memperlihatkan perlunya kolaborasi antara pemerintah, petani, dan pihak swasta untuk menciptakan sistem yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Kesimpulannya, prabowo penggilingan padi menjadi isu kompleks yang mencerminkan banyaknya faktor yang mempengaruhi ketahanan pangan nasional. Dari kelangkaan solar hingga perubahan pola petani, semua ini berdampak pada produksi dan kualitas beras yang dihasilkan. Dengan adanya kebijakan sertifikasi oleh BULOG, diharapkan dapat mendorong peningkatan kualitas dan keberlangsungan usaha penggilingan padi di Indonesia.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.

Baca juga: