Sorot Jogja – Dahulu bersama PKS, komedian Narji kini masuk PSI, sebuah langkah yang mengejutkan banyak penggemar dan pengamat politik. Bergabungnya Narji ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menandai perubahan signifikan dalam karier politiknya, terutama setelah sebelumnya ia terlibat dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Keputusan ini terungkap setelah kunjungan Presiden Joko Widodo ke Lampung, yang diklaim membawa dampak positif bagi PSI.
Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PSI Lampung, Ahmad Rido Julian, menyatakan bahwa kunjungan Jokowi ke wilayah tersebut telah memicu lonjakan minat masyarakat untuk bergabung dengan PSI. “Kami ketiban pulung dengan adanya kunjungan Pak Jokowi, ya. Setelah kunjungan itu, berbondong-bondong tokoh dan masyarakat ingin bergabung ke PSI baik menjadi pengurus maupun anggota,” ungkap Rido. Dia menambahkan bahwa saat ini pihaknya tengah melakukan konsolidasi organisasi di seluruh desa dan kelurahan di Lampung.
Dalam konteks ini, masuknya Narji ke PSI dianggap sebagai sinyal positif. Bestari Barus, Ketua Bidang Politik DPP PSI, menyatakan bahwa Narji bukan satu-satunya tokoh yang akan bergabung, melainkan ada banyak tokoh masyarakat dan agama yang sudah ancang-ancang untuk merapat ke PSI. “Setelah beliau putuskan untuk bergabung PSI kami gembira dan ini kemudian insyaAllah menjadi tambahan energi bagi PSI di Provinsi Banten,” kata Bestari.
Meskipun banyak yang bersemangat untuk bergabung dengan PSI, Bestari menegaskan bahwa para tokoh tersebut masih menunggu waktu yang tepat untuk mendeklarasikan dukungan mereka. “Ada dari politisi aktif, ada bahkan dari para tokoh agama, tokoh-tokoh masyarakat yang menunggu saat yang tepat untuk bergabung bersama PSI,” lanjutnya.
Pergantian Narji dari PKS ke PSI juga memicu berbagai spekulasi dan reaksi dari berbagai kalangan. Sebelumnya, Narji dikenal sebagai salah satu kader PKS yang aktif, sehingga keputusannya untuk berpindah partai menimbulkan pertanyaan mengenai alasan di balik langkah tersebut. Beberapa pihak menganggap bahwa faktor dukungan Jokowi dan kepemimpinan Kaesang Pangarep di PSI menjadi daya tarik bagi Narji untuk bergabung.
Sementara itu, berita yang beredar di media sosial mengenai Narji yang menyebut Jokowi lebih hebat daripada Nabi Ibrahim, telah dibuktikan sebagai hoaks. Tim Cek Fakta mengonfirmasi bahwa informasi tersebut adalah hasil manipulasi dan tidak pernah diucapkan oleh Narji. Ini menunjukkan pentingnya verifikasi informasi di era digital saat ini.
Dengan bergabungnya Narji dan munculnya gelombang dukungan dari berbagai tokoh, PSI tampak berusaha memanfaatkan momentum politik yang ada. Rido menegaskan bahwa PSI akan terus melakukan konsolidasi hingga ke tingkat desa untuk meningkatkan struktur partai dan mempersiapkan diri menjelang pemilihan umum yang akan datang.
Secara keseluruhan, pergeseran Narji dari PKS ke PSI dan dukungan yang mengalir ke partai ini mencerminkan dinamika politik yang terus berkembang di Indonesia. Dengan adanya pengaruh Jokowi, PSI berharap dapat meraih suara yang signifikan dalam pemilu mendatang. Dahulu bersama PKS, komedian Narji kini masuk PSI, dan langkah ini mungkin saja menjadi awal dari perubahan besar bagi partai berlogo gajah tersebut.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.
