Sorot Jogja – Jenazah Khamenei tiba di kota suci Syiah di Irak, massa padati jalanan [titlebase]. Prosesi pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, berlangsung dengan sangat meriah dan penuh emosi, menarik perhatian jutaan orang dari seluruh penjuru dunia. Pemakaman ini diadakan pada Kamis malam, 9 Juli 2026, di kompleks Makam Imam Reza di Mashhad, tempat yang sangat dihormati oleh penganut Syiah.

Setelah tertunda selama empat bulan akibat serangan brutal dari Amerika Serikat dan Israel yang terjadi pada akhir Februari, pemakaman Khamenei menjadi momen yang sangat ditunggu-tunggu. Secara resmi, pemakaman dimulai setelah serangkaian acara berkabung yang berlangsung selama enam hari di berbagai kota, termasuk Teheran, Qom, Najaf, dan Karbala sebelum akhirnya jenazah dibawa kembali ke Mashhad.

Baca juga:

Ribuan pelayat yang mengenakan pakaian hitam memenuhi jalanan, mengibarkan bendera Iran dan bendera merah sebagai simbol pembalas dendaman. Beberapa di antara mereka meneriakkan slogan-slogan menentang presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang mereka anggap sebagai penyebab kematian Khamenei. “Hai, Trump! Kami akan membunuhmu!” teriak para pelayat dengan semangat membara.

Proses pemakaman berlangsung di aula shalat Dar Al-Dhikr, yang terletak di kompleks Makam Imam Reza. Jenazah Khamenei, yang juga dimakamkan bersama empat anggota keluarganya yang tewas dalam serangan yang sama, diarak dengan penuh khidmat. Di tengah prosesi, para pejabat tinggi Iran, termasuk Ketua Parlemen, Mohammad-Bagher Ghalibaf, turut hadir, meskipun putra Khamenei, Mojtaba Khamenei, tidak bisa hadir karena alasan keamanan.

Otoritas Iran mengklaim bahwa lebih dari 43 juta orang menghadiri pemakaman ini, menjadikannya sebagai salah satu acara terbesar dalam sejarah. Statistik ini didapat dari berbagai sumber, termasuk catatan penumpang transportasi umum dan pengukuran kepadatan massa di sepanjang jalur prosesi. Para pelayat tidak hanya berasal dari Iran, tetapi juga dari negara-negara lain yang memiliki hubungan kuat dengan Iran.

Baca juga:

Selama prosesi ini, banyak orang melakukan perjalanan antar-kota untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Khamenei. Acara yang berlangsung hampir sepekan ini dimulai dengan prosesi di Teheran, dilanjutkan ke Qom dan Masjid Jamkaran, sebelum menyeberang ke Irak untuk disemayamkan di Najaf dan Karbala. Rangkaian acara ini menunjukkan betapa besar pengaruh Khamenei di kawasan tersebut.

Setelah pemakaman, situasi di Iran dan daerah sekitarnya tetap tegang, dengan protes anti-Amerika yang terus mewarnai suasana. Masyarakat mengungkapkan kemarahan dan duka cita mereka dengan menggelar unjuk rasa di beberapa kota, menuntut balasan atas serangan yang mereka anggap sebagai serangan terhadap negara dan kehormatan mereka.

Dengan pemakaman ini, Iran memasuki babak baru dalam konflik yang terus berlanjut dengan Amerika Serikat. Pemimpin baru Iran, yang dipilih untuk menggantikan Khamenei, diharapkan dapat membawa perubahan dalam strategi menghadapi musuh-musuhnya di kawasan Timur Tengah.

Baca juga:

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.