Sorot Jogja – Dahsyatnya Lionel Messi versi jalan-jalan, terlihat loyo tapi semakin mematikan. Begitulah kesan yang muncul ketika melihat megabintang Timnas Argentina, Lionel Messi, beraksi di lapangan. Namun, jangan salah, karena di balik kesan loyo tersebut, Messi memiliki kemampuan yang sangat matang dan efisien dalam memanfaatkan energi. Seiring pertambahan usia, Messi tidak lagi dapat memforsir tenaganya dengan melakukan dribel-dribel atau aksi sprint terlalu banyak. Kondisi ini dikompensasi oleh kemampuan scanning atau memindai setiap jengkal lapangan yang semakin matang. Dengan insting spesialnya ini, Messi menjelma menjadi musuh yang lebih mematikan bagi lawan. Pria 39 tahun itu cenderung lebih banyak berjalan santai di lapangan dan menoleh ke sana-sini. Jangan salah, karena gesturnya tersebut malah pertanda bahwa dia sedang menyiapkan rencana mendobrak pertahanan dan awal bencana bagi musuh. Saat proses memindai, Messi ibarat sedang membuat bagan lapangan tiga dimensi dalam otaknya guna memetakan pergerakan kawan, lawan, hingga celah untuk dieksploitasi. Efeknya, dengan manuver kilat, dia bisa membelah pertahanan atau mengeksekusi peluang secara sekejap menjadi gol, asis, maupun operan kunci. Efisiensi dahsyat tenaga Messi terpapar jelas dalam data. Sampai habis fase grup Piala Dunia 2026, dia cuma mencatatkan rata-rata 1,5 kali dribel sukses per partai. Dengan kemampuan ini, Messi menjadi salah satu pemain yang paling mematikan di lapangan. Jangan salah, karena di balik kesan loyo tersebut, Messi memiliki kemampuan yang sangat matang dan efisien dalam memanfaatkan energi.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.

Baca juga:
Baca juga:
Baca juga: