Sorot Jogja – Di tengah tantangan yang dihadapi oleh buruh di Indonesia, kisah inspiratif datang dari Leni Ismawati, seorang anak buruh tani asal Gunungkidul yang baru saja diterima di Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan beasiswa penuh. Leni, 18 tahun, berhasil lolos dalam Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) untuk program studi Akuntansi. Keberhasilan ini menjadi simbol harapan bagi banyak buruh dan anak-anak mereka yang bercita-cita melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Kedua orang tua Leni, Semojo dan Erni, adalah buruh tani yang sehari-hari mengurus sawah dan ternak. Dengan penghasilan yang tidak menentu, mereka berjuang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan mendukung pendidikan Leni. Erni mengaku sering mencari tambahan penghasilan dengan bekerja sebagai buruh tani di sekitar. Meskipun dalam keterbatasan, Erni menegaskan pendidikan anaknya adalah prioritas utama, agar Leni tidak mengalami penyesalan yang sama seperti dirinya yang tidak bisa melanjutkan sekolah.

Baca juga:

“Saya selalu mendorong anak saya untuk sekolah, bagaimanapun caranya untuk biaya nanti bisa dicari. Saya tidak ingin dia menyesal seperti orang tuanya,” ujar Erni, yang merasa bangga dengan pencapaian Leni.

Namun, di sisi lain, dunia buruh di Indonesia harus menghadapi berbagai tantangan, termasuk kebijakan perpajakan yang baru-baru ini menuai kritik tajam. Kebijakan pengenaan Pajak Penghasilan (PPh) sebesar 5 persen atas pencairan dana Jaminan Hari Tua (JHT) telah memicu gelombang protes dari organisasi buruh. Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) menyatakan bahwa pajak tersebut tidak adil dan memberatkan pekerja yang sedang menghadapi kesulitan ekonomi akibat pemutusan hubungan kerja (PHK).

Wakil Ketua Umum KSPSI, Arnod Sihite, mengungkapkan bahwa pajak ini merugikan buruh yang telah menabung selama bertahun-tahun untuk hari tua. “Buruh menabung untuk bekal hidup, sangat tidak adil jika ketika uang itu dicairkan masih dikenakan pajak lagi,” tegasnya. Gelombang kritik ini semakin mengemuka seiring dengan pengunduran diri belasan ribu pengurus dan anggota Partai Buruh di Kalimantan Selatan. Mereka mundur sebagai bentuk protes terhadap keputusan yang diambil oleh pimpinan partai yang dinilai tidak sejalan dengan aspirasi buruh.

Baca juga:

Said Iqbal, Presiden KSPI, yang baru-baru ini diangkat sebagai Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh, menyatakan komitmennya untuk tetap memperjuangkan hak buruh melalui dialog dengan pemerintah. Iqbal menegaskan akan tetap kritis terhadap kebijakan yang tidak berpihak kepada buruh, termasuk dalam hal pajak JHT dan upah minimum.

Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa pemerintah sedang mengkaji usulan pembebasan pajak untuk JHT dan Tunjangan Hari Raya (THR), dengan mempertimbangkan praktik di negara lain. Usulan ini muncul sebagai upaya untuk meningkatkan daya beli pekerja, terutama di tengah kondisi ekonomi yang sulit.

Dalam konteks yang lebih luas, perjuangan buruh dan pendidikan anak-anak mereka menjadi sangat relevan. Kisah Leni Ismawati yang berhasil meraih kuliah di UGM menunjukkan bahwa dengan usaha dan dukungan, mimpi bisa terwujud meski berasal dari latar belakang keluarga buruh. Namun, di sisi lain, tantangan yang dihadapi oleh buruh, seperti pajak JHT dan kebijakan ketenagakerjaan, harus menjadi perhatian serius agar hak-hak mereka tetap terjaga.

Baca juga:

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.