Sorot Jogja – Maluku Utara kembali menjadi sorotan setelah terjadi gempa bumi berdampak di Sulawesi Utara dan erupsi Gunung Ibu di Halmahera Barat. Pada Jumat, 26 Juni 2026, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan gempa berkekuatan 5,1 Magnitudo yang mengguncang Melonguane, Sulawesi Utara, pada pukul 04:17 WIB. Pusat gempa berada di koordinat 9.51LU dan 127.05BT, terletak 613 km timur laut dari Melonguane. Meskipun cukup kuat, BMKG memastikan gempa ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami.
Selain itu, aktivitas vulkanis juga meningkat di Maluku Utara. Gunung Ibu, yang terletak di Kabupaten Halmahera Barat, mengalami erupsi pada pukul 08:21 WIT dengan kolom abu teramati mencapai sekitar 500 meter di atas puncak. Erupsi ini mengeluarkan abu berwarna kelabu dengan intensitas sedang ke arah barat daya. Petugas pengamatan gunung api mencatat bahwa erupsi ini tercatat di seismograf dengan amplitudo maksimum 23 mm dan durasi 43 detik.
Petugas dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah mengeluarkan rekomendasi untuk masyarakat di sekitar Gunung Ibu agar tidak beraktivitas dalam radius 2 km dari kawah dan menjauhi sektor 3,5 km ke arah utara dari bukaan kawah yang aktif. Jika terjadi hujan abu, masyarakat disarankan untuk menggunakan masker dan kacamata untuk melindungi diri dari dampak abu vulkanik.
Di tengah situasi bencana alam, upaya pembangunan juga terus dilakukan di Maluku Utara. Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi Maluku Utara menggelar uji kompetensi untuk sertifikasi Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Tipe B. Kegiatan ini diadakan untuk memastikan pengadaan barang dan jasa, khususnya proyek konstruksi, berjalan profesional dan akuntabel. Uji kompetensi ini diikuti oleh 21 peserta dan merupakan bagian dari upaya untuk meningkatkan jumlah aparatur sipil negara yang bersertifikat di daerah tersebut.
Dalam acara tersebut, Fungsional Asesor SDM Aparatur Ahli Madya LKPP menyatakan pentingnya sertifikasi PPK Tipe B untuk mengurangi potensi penyimpangan dalam pengadaan. Hal ini menunjukkan bahwa selain menghadapi tantangan alam, Maluku Utara juga berupaya meningkatkan kapasitas sumber daya manusianya dalam pengelolaan proyek-proyek pembangunan.
Sementara itu, dalam upaya pemberdayaan ekonomi perempuan, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) meluncurkan program Kebun Pangan Perempuan di Maluku Utara. Program ini bertujuan untuk memperkuat ketahanan pangan keluarga dan meningkatkan pendapatan perempuan melalui pengelolaan komoditas lokal. Dengan pengelolaan lahan perhutanan sosial seluas lebih dari 900 hektare, program ini diharapkan dapat memberikan akses yang lebih baik kepada perempuan dalam sektor ekonomi.
Secara keseluruhan, Maluku Utara mengalami beragam aktivitas yang mencakup bencana alam dan inisiatif pembangunan yang menunjukkan dinamika kehidupan masyarakat di wilayah ini. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada menghadapi potensi bencana alam serta mendukung program-program yang meningkatkan kesejahteraan dan ketahanan ekonomi.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.
