Sorot Jogja – JAKARTA – Menanti data ekonomi AS, begini proyeksi rupiah Jumat (26/6) [titlebase]. Nilai tukar rupiah berpotensi mengalami pelemahan dalam perdagangan akhir pekan ini. Investor global saat ini masih fokus terhadap perkembangan inflasi di Amerika Serikat (AS) yang diperkirakan berdampak signifikan terhadap kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed).

Jika data inflasi AS tetap tinggi, The Fed mungkin akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama, yang cenderung akan memperkuat dolar AS. Hal ini berpotensi memicu aliran dana ke aset-aset berdenominasi dolar, sehingga memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Baca juga:

Menurut pengamat mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, pergerakan rupiah pada hari Jumat ini sangat tergantung pada hasil rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) AS. Jika data PCE tersebut menunjukkan kenaikan di atas perkiraan, rupiah diprediksi akan melemah. Proyeksi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diperkirakan akan bergerak fluktuatif dalam kisaran 17.900 hingga 18.000 rupiah per dolar AS.

Sebelumnya, pada penutupan perdagangan Kamis (25/6), nilai tukar rupiah mengalami penguatan tipis sebesar 9 poin atau 0,05 persen menjadi 17.943 rupiah per dolar AS. Penguatan ini, menurut analis pasar uang Ibrahim Assuaibi, disebabkan oleh penurunan harga minyak mentah yang merosot tajam hingga berada di bawah 70 dolar AS per barel untuk WTI Crude Oil.

Selain itu, kesepakatan awal pekan lalu untuk mengakhiri konflik AS-Israel dengan Iran juga berkontribusi terhadap pemulihan lalu lintas di Selat Hormuz. Hal ini membuat harga minyak dunia semakin merosot, yang pada gilirannya mempengaruhi pergerakan rupiah.

Namun, sentimen pasar masih sangat dipengaruhi oleh ekspektasi terhadap kebijakan moneter The Fed. Ibrahim menjelaskan, meskipun harga minyak menurun, ekspektasi pasar terhadap kebijakan ketat Federal Reserve tetap tinggi. Delapan dari 19 anggota dewan The Fed memperkirakan akan ada kenaikan suku bunga menjelang akhir tahun 2026, sementara mayoritas lainnya memprediksi suku bunga akan tetap stabil.

Fokus pasar juga tertuju pada rilis data inflasi, angka Produk Domestik Bruto (PDB) untuk kuartal pertama 2026, dan klaim pengangguran mingguan AS. Ketidakpastian global, terutama terkait ketegangan di Timur Tengah, masih menjadi faktor yang mempengaruhi sentimen pasar.

Baca juga:

Rupiah menunjukkan tanda-tanda penguatan pada penutupan sore sebelumnya, didorong oleh kembalinya aliran dana asing serta membaiknya sentimen umum di pasar keuangan domestik. Analis dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebutkan bahwa penguatan ini masih berada dalam konteks yang hati-hati karena investor menanti data inflasi AS yang dijadwalkan rilis malam ini.

Dengan demikian, menanti data ekonomi AS, begini proyeksi rupiah Jumat (26/6) [titlebase] menjadi sangat penting bagi para pelaku pasar. Penguatan atau pelemahan rupiah dalam waktu dekat akan sangat bergantung pada data inflasi yang akan dirilis dan reaksi pasar terhadapnya. Sejumlah mata uang Asia lainnya juga menunjukkan pergerakan yang serupa, dengan beberapa menguat terhadap dolar AS, menunjukkan bahwa sentimen pasar global tetap berfluktuasi.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.