Sorot Jogja – Tensi tinggi Munas-Konbes di Kediri, PBNU disebut tengah hadapi fase kritis jelang muktamar. Perhelatan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar (Munas-Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) 2026 yang berlangsung di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, Jawa Timur, menjadi sorotan tajam. Ketegangan yang terjadi dalam sidang pleno menunjukkan adanya pergeseran dalam dinamika internal organisasi yang selama ini dikenal dengan tradisi kesepuhan.

Ketua PWNU Kalimantan Utara, Alwan Saputra, mengungkapkan bahwa ketegangan itu mulai muncul saat pembahasan mengenai rekomendasi calon tuan rumah Muktamar NU yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus 2026. Lima daerah diusulkan sebagai calon, termasuk DKI Jakarta, Nusa Tenggara Barat, Sumatera Barat, Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, dan Jawa Barat. Namun, ketika hasil tim perumus dibawa ke sidang pleno, terjadi pengetokan palu tanpa adanya persetujuan dari peserta. Hal ini langsung memicu gelombang interupsi yang menandakan ketidakpuasan di kalangan peserta.

Baca juga:

Suasana semakin memanas ketika beberapa peserta, yang dipimpin oleh Nuruzzaman, pendukung KH Yahya Cholil Staquf, melakukan aksi intimidasi terhadap peserta yang melakukan interupsi. Hal ini menciptakan ketegangan yang terlihat jelas di dalam ruangan sidang, di mana banyak kiai sepuh hadir. Situasi ini menandakan bahwa PBNU tengah menghadapi fase kritis jelang muktamar, di mana marwah organisasi dipertaruhkan.

Di tengah kondisi ini, PBNU juga mengumumkan rencana penutupan Munas di Bangkalan, Madura, jika Presiden Prabowo Subianto hadir. Katib Aam Syuriyah PBNU, Mohammad Nuh, menekankan bahwa pemilihan lokasi tersebut memiliki nilai simbolik yang mendalam, mengingat Bangkalan merupakan tanah kelahiran Syaichona Kholil, seorang ulama besar dalam sejarah NU.

Dalam penutupan Munas yang dihadiri oleh lebih dari seribu peserta, Prabowo disambut hangat oleh jajaran PBNU, menciptakan momen yang penuh makna. Kehadiran beliau menjadi penanda penting bagi PBNU yang tengah berjuang untuk mempertahankan independensi dan tradisi di tengah gempuran kepentingan politik.

Baca juga:

Penting untuk dicatat bahwa mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) yang menjadi landasan bagi pemilihan pemimpin NU saat ini tengah dalam sorotan. AHWA dirancang untuk memastikan bahwa posisi Rais Aam diisi oleh figur yang memiliki integritas tinggi dan pemahaman yang mendalam mengenai agama. Namun, tantangan dalam mempertahankan mekanisme ini semakin besar seiring dengan dinamika politik yang berkembang.

Dengan semua peristiwa yang berlangsung di Kediri, PBNU dihadapkan pada tantangan besar untuk menjaga tradisi dan marwah organisasi. Tensi tinggi Munas-Konbes di Kediri, PBNU disebut tengah hadapi fase kritis jelang muktamar menjadi panggilan bagi seluruh nahdliyin untuk bersatu dan menjaga nilai-nilai yang telah diwariskan.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.

Baca juga: