Sorot Jogja – Gianni Infantino layangkan peringatan kepada Inggris dan negara lain di tengah rumor boikot Piala Dunia. Ketegangan antara FIFA dan berbagai federasi sepak bola semakin memuncak setelah Gianni Infantino, Presiden FIFA, mengusulkan rencana kontroversial yang akan menjual sebagian saham komersial Piala Dunia kepada investor ekuitas swasta. Proposal ini telah menuai kritik tajam dari banyak pihak, termasuk UEFA, yang mengancam akan memboikot Piala Dunia jika rencana tersebut tetap dilanjutkan.
UEFA, yang merupakan badan sepak bola teratas di Eropa, secara resmi menyatakan kehilangan kepercayaan terhadap kepemimpinan Infantino. Mereka menilai bahwa rencana penjualan saham tersebut bukan hanya merugikan nilai-nilai sepak bola, tetapi juga dapat mengancam keberlangsungan turnamen. “Kepemimpinan FIFA saat ini tidak hanya kehilangan kepercayaan UEFA tetapi juga banyak anggota keluarga sepak bola lainnya,” ujar pernyataan resmi UEFA.
Kontroversi ini semakin meluas ketika sebanyak 90 dari 221 federasi anggota FIFA menolak proposal yang dikenal dengan nama FIFA Forward Enterprise (FFE). Proposal ini berencana untuk menjual 20-30 persen saham komersial dari hak siar dan sponsor Piala Dunia serta turnamen lainnya. Banyak yang merasa bahwa langkah ini akan membawa sepak bola ke dalam jurang kapitalisme, mencederai esensi dan integritas olahraga yang dicintai banyak orang.
Di sisi lain, FIFA juga menghadapi tekanan dari dalam organisasi sendiri. Carlos Cordeiro, penasihat senior Infantino, memilih mundur dari jabatannya sebagai bentuk protes terhadap rencana tersebut. Kevin Lamour, kepala operasional FIFA, bahkan menyebut rencana itu sebagai “proyek satu orang” dan menegaskan bahwa banyak pihak merasa “ditipu” terkait wacana ini. Hal ini menunjukkan bahwa tidak hanya federasi luar, tetapi juga struktur internal FIFA sendiri sedang mengalami ketidakpuasan yang besar terhadap kepemimpinan Infantino.
Sikap tegas UEFA dan konfederasi lain semakin menguatkan ancaman boikot yang telah dicetuskan. “Jika Infantino tetap bersikukuh dengan rencananya, kami tidak akan ragu untuk memboikot Piala Dunia dan turnamen FIFA lainnya,” tegas pernyataan UEFA. Selain UEFA, konfederasi CONCACAF dan AFC juga turut menyuarakan penolakan terhadap rencana ini. Bahkan, Perdana Menteri Inggris, Andy Burnham, turut mengkritik kepemimpinan Infantino dan menyebutnya “bukan orang yang tepat” untuk memimpin otoritas sepak bola dunia.
Dalam konteks ini, Gianni Infantino layangkan peringatan kepada Inggris dan negara lain bahwa keputusan untuk memboikot adalah langkah serius yang dapat berdampak besar pada dunia sepak bola. FIFA kini terjebak dalam situasi yang sulit, di mana rencana komersialisasi yang ambisius berpotensi mengakibatkan kerugian besar bagi reputasi dan hubungan dengan federasi anggota.
Dengan semakin banyaknya suara penolakan yang muncul, posisi Infantino sebagai Presiden FIFA semakin terancam. Kongres FIFA yang akan berlangsung pada Maret 2027 mendatang di Rabat, Maroko, dipastikan akan menjadi ajang penentu bagi masa depan kepemimpinannya. Jika dukungan dari federasi anggota tidak kembali pulih, bisa jadi Infantino akan menghadapi tantangan yang lebih besar dalam upayanya untuk tetap menjabat.
Secara keseluruhan, situasi ini menunjukkan bahwa Gianni Infantino layangkan peringatan kepada Inggris dan negara lain di tengah rumor boikot Piala Dunia, sebuah langkah yang tidak bisa dianggap remeh. Boikot adalah senjata terakhir yang bisa digunakan oleh federasi-federasi untuk mengekspresikan ketidakpuasan mereka terhadap kebijakan FIFA yang dinilai merugikan.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.
