Sorot Jogja – Pemerintah Iran mengancam untuk menutup semua jalur ekspor minyak di Timur Tengah, khususnya Selat Hormuz, jika Amerika Serikat tidak memenuhi komitmennya dalam kesepakatan yang telah ditandatangani. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengungkapkan bahwa Iran tidak akan membuka kembali Selat Hormuz hingga AS mencabut blokade dan menghentikan ancaman militer. Pernyataan ini menandai eskalasi ketegangan yang dapat berdampak langsung pada pasar energi global.

Dalam pidatonya di parlemen, Ghalibaf menegaskan, “Selama AS belum memenuhi komitmennya berdasarkan nota kesepahaman, termasuk mencabut blokade, membebaskan aset yang dibekukan, dan menghentikan operasi militer, maka Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali.” Pernyataan ini merupakan respons terhadap situasi yang semakin memanas setelah Iran menyerang kapal komersial milik Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) di Selat Hormuz, yang memicu protes keras dari Uni Emirat Arab (UEA).

Baca juga:

Konflik antara AS dan Iran, yang semakin intensif, telah membuat pasar energi global bergetar. Insiden penyerangan kapal ADNOC adalah yang ketiga dalam waktu kurang dari seminggu, menambah ketidakpastian terhadap keamanan di Selat Hormuz, yang merupakan jalur penting bagi pengiriman minyak dunia. Ghalibaf menegaskan bahwa Iran akan menggunakan pendekatan diplomatik dan militer untuk menunjukkan konsekuensi dari tindakan AS.

Para analis pasar memperkirakan bahwa jika Iran benar-benar menutup jalur ekspor minyak di Timur Tengah, akan ada dampak signifikan terhadap harga minyak global. Saat ini, harga minyak mentah Brent dan WTI telah mengalami fluktuasi akibat ketegangan ini, dengan Brent ditutup pada harga US$88,91 per barel dan WTI di US$83,20 per barel.

Harga minyak dunia diprediksi akan terus naik jika ketegangan ini berlanjut, memicu inflasi dan meningkatkan biaya transportasi serta produksi. Kenaikan harga energi juga akan mempengaruhi keputusan bank sentral dan ekspektasi pasar terhadap suku bunga yang lebih tinggi. Dalam situasi ini, ketidakpastian seputar Selat Hormuz menjadi perhatian utama bagi investor.

Baca juga:

Negara-negara pengekspor energi di Teluk, seperti Arab Saudi dan UEA, mulai mencari jalur alternatif untuk menghindari ketergantungan pada Selat Hormuz. Meskipun demikian, Iran tetap bersikeras untuk mempertahankan kontrol atas jalur tersebut, yang menyuplai sekitar 20 persen dari total ekspor minyak dunia.

Dengan ancaman Iran untuk menutup semua jalur ekspor minyak di Timur Tengah, situasi ini jelas berpotensi memicu krisis energi yang lebih besar. Jika AS tidak segera mengambil langkah diplomatik untuk meredakan ketegangan, proyeksi pasar energi global bisa menjadi semakin suram. Dalam konteks ini, keputusan Iran untuk mempertahankan penutupan Selat Hormuz akan menjadi titik kritis yang akan menentukan arah pasar energi dan stabilitas ekonomi global.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.

Baca juga: