Sorot Jogja – Harga minyak dunia naik tipis di tengah optimisme perdamaian AS-Iran [titlebase]. Meskipun terdapat ketegangan yang meningkat di Timur Tengah, pasar minyak menunjukkan respons yang beragam terhadap perkembangan diplomatik yang terjadi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Dalam beberapa hari terakhir, harga minyak mentah Brent dan West Texas Intermediate (WTI) mengalami fluktuasi yang cukup signifikan, mencerminkan ketidakpastian yang masih membayangi prospek pemulihan pasokan minyak global.
Menurut laporan terbaru dari Dana Moneter Internasional (IMF), harga minyak global diperkirakan tidak akan segera kembali ke level sebelum konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran. Direktur Departemen Komunikasi IMF, Julie Kozack, menyatakan bahwa meskipun jalur pelayaran di Selat Hormuz mulai kembali normal, harga minyak masih akan bertahan di level yang tinggi. Proyeksi terbaru menunjukkan bahwa harga minyak dunia dapat melonjak hampir sepertiga pada 2026 menjadi 89,27 dolar AS per barel.
Pada perdagangan Kamis (10/7/2026), harga minyak mentah Brent kontrak September turun sebesar 2,7 persen menjadi 75,88 dolar AS per barel, sementara WTI mengalami penurunan 2,6 persen menjadi 71,64 dolar AS per barel. Penurunan ini terjadi setelah harga minyak sebelumnya sempat melonjak tajam. Meskipun terdapat harapan untuk jalur diplomatik antara AS dan Iran, ketegangan geopolitik yang terjadi akibat saling serang antara kedua negara masih menjadi perhatian utama pelaku pasar.
Beberapa analis mencatat bahwa pasar kini tengah menunggu hasil pertemuan lanjutan antara pejabat AS dan Iran yang akan membahas situasi di Selat Hormuz serta kemungkinan pencabutan sebagian sanksi ekonomi terhadap Iran. Optimisme pasar terkait pencapaian kesepakatan permanen selama masa gencatan senjata 60 hari memberikan harapan bagi kelancaran distribusi minyak melalui jalur strategis tersebut.
Direktur Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengindikasikan bahwa kelancaran distribusi minyak di Selat Hormuz telah meningkatkan volume pengiriman minyak yang melintasi kawasan tersebut, bahkan diperkirakan mencapai 103,1 juta barel per hari. Hal ini berpotensi menyebabkan oversupply di pasar global, yang dapat menekan harga minyak lebih lanjut.
Namun, meskipun harga minyak dunia naik tipis di tengah optimisme perdamaian AS-Iran [titlebase], pelaku pasar tetap waspada terhadap setiap perkembangan yang dapat mengubah dinamika pasar. Kenaikan harga minyak juga diimbangi oleh peningkatan daya tarik emas sebagai aset safe haven di tengah ketidakpastian global.
Dalam konteks ini, situasi di Timur Tengah masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga minyak. Ketegangan yang terus berlanjut antara Iran dan AS, ditambah dengan serangan terhadap kapal tanker komersial, menunjukkan bahwa meskipun ada upaya diplomatik, risiko ketidakstabilan tetap ada. Investor dan pelaku pasar di seluruh dunia perlu terus memantau perkembangan situasi ini, karena dampaknya terhadap harga minyak dapat menjadi signifikan.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.
