Sorot Jogja – Di tengah meningkatnya ketegangan di wilayah Suriah, Rusia dan Suriah baru-baru ini sepakat untuk melakukan penataan ulang dua pangkalan militer. Kesepakatan ini muncul setelah serangkaian serangan udara yang dilancarkan oleh Israel terhadap fasilitas militer di Suriah, khususnya Pangkalan Udara Abu Duhur. Serangan Israel ini menambah kompleksitas situasi yang sudah tegang antara berbagai kekuatan yang terlibat di Suriah.

Rusia, sebagai sekutu utama Suriah, berperan penting dalam memastikan bahwa penataan ulang dua pangkalan militer ini akan meningkatkan kapasitas pertahanan Suriah. Penataan ini dipandang sebagai langkah strategis untuk memperkuat kehadiran militer Suriah dalam menghadapi ancaman dari luar, termasuk serangan dari Israel yang semakin agresif.

Baca juga:

Menurut laporan, Menteri Luar Negeri Suriah, Asaad Al-Shaibani, mengonfirmasi bahwa pangkalan-pangkalan tersebut akan diperbaiki dan dipersiapkan untuk digunakan oleh Angkatan Udara Suriah. Al-Shaibani juga menegaskan bahwa serangan Israel baru-baru ini terhadap Pangkalan Udara Abu Duhur tidak dapat dibenarkan dan merupakan pelanggaran terhadap kedaulatan Suriah.

Serangan Israel terhadap pangkalan ini terjadi pada tanggal 18 Agustus 2026, dan dilaporkan telah menghancurkan landasan pacu serta fasilitas penyimpanan tanpa menyebabkan korban jiwa. Israel mengklaim bahwa serangan tersebut dilakukan untuk mencegah pengerahan pasukan Turki ke Suriah, yang dianggapnya sebagai ancaman serius. Pangkalan Abu Duhur menjadi penting karena Turki diketahui memiliki hubungan dekat dengan pemerintah Suriah dan memberikan bantuan kepada militer Suriah.

Dalam pernyataan resmi, Al-Shaibani juga menekankan bahwa Suriah berkomitmen untuk membangun kembali institusi militer dan sipilnya, serta meningkatkan kapasitas melalui kerjasama dengan beberapa negara, termasuk Turki dan Rusia. Turki sendiri telah menyatakan bahwa dukungannya kepada Suriah adalah bagian dari upaya untuk menciptakan stabilitas di kawasan yang dilanda konflik ini.

Baca juga:

Ketegangan antara Israel dan Suriah semakin meningkat, di mana Israel terus melancarkan serangan untuk mencegah pengaruh Iran dan keberadaan militer Turki di Suriah. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyebutkan bahwa negara Zionis tidak akan mentolerir keberadaan militer asing di dekat perbatasannya. Dengan demikian, kesepakatan antara Suriah dan Rusia untuk penataan ulang dua pangkalan militer menjadi sangat vital dalam konteks ini.

Dalam konteks yang lebih luas, situasi di Suriah menunjukkan betapa rumitnya geopolitik di Timur Tengah. Dengan adanya keterlibatan berbagai negara dan kelompok, termasuk Turki, Rusia, dan Israel, setiap langkah strategis yang diambil oleh Suriah dan Rusia dalam penataan ulang dua pangkalan militer dapat mempengaruhi stabilitas kawasan secara keseluruhan.

Dari semua perkembangan ini, satu hal yang jelas adalah bahwa Suriah dan Rusia sepakati penataan ulang dua pangkalan militer [titlebase] sebagai bagian dari strategi untuk memperkuat pertahanan dan kedaulatan negara. Ini menunjukkan bahwa meskipun ada tantangan besar, Suriah tetap berusaha untuk membangun kembali kekuatan militernya dalam menghadapi ancaman dari luar.

Baca juga:

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.