Sorot Jogja – Dalam sebuah insiden tragis, separatis Papua tembak pekerja proyek jalan, lima orang tewas di daerah Tolikara, Papua. Pada 2 Agustus 2026, sekelompok bersenjata yang diduga merupakan anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM) menyerang para pekerja proyek yang sedang beristirahat di camp mereka di sekitar Distrik Kanggime.

Serangan tersebut terjadi sekitar pukul 19.00 WIT, ketika dua kelompok OPM muncul dan tanpa peringatan langsung melakukan penembakan. Lima pekerja, yang merupakan bagian dari proyek pembangunan jalan oleh PT Sutan Harauli Jaya, menjadi korban dalam kejadian ini. Empat dari korban tewas telah teridentifikasi sebagai Arman Sibarani, Erlin Aritonang, Barengga, dan Alfons Reyaan. Satu korban lainnya, yang merupakan warga asli Papua, masih dalam proses identifikasi.

Baca juga:

Menurut laporan dari Kombes Pol Yusuf Sutejo, Kepala Satgas Humas Operasi Damai Cartenz-2026, kelima korban tewas akibat luka tembak dan penganiayaan berat. Lima pekerja lainnya berhasil meloloskan diri dan telah dievakuasi dalam kondisi selamat. Mereka yang selamat adalah Samuel Silalahi, William, Herman Manik, Supredo Ulipi, dan Joel Jeriko Marathon.

Proses evakuasi menjadi tantangan tersendiri bagi tim Satgas, yang menghadapi kontak tembak dengan kelompok bersenjata yang belum teridentifikasi. Meskipun begitu, tim yang terdiri dari anggota TNI dan Polri berhasil mengevakuasi jenazah dan korban selamat ke RSUD Mulia dan RSUD Karubaga untuk mendapatkan perawatan medis.

Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan III, Letnan Jenderal TNI Lucky Avianto, mengecam aksi tersebut sebagai serangan pengecut yang menyasar warga sipil. Ia menyatakan bahwa tindakan OPM ini bertujuan untuk mengganggu pembangunan infrastruktur di Papua, yang merupakan upaya untuk meningkatkan kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat setempat.

Baca juga:

Lebih lanjut, laporan dari Komnas HAM mencatat bahwa sepanjang tahun 2026, telah terjadi 42 konflik bersenjata di Papua yang mengakibatkan 59 orang tewas, di mana 43 di antaranya adalah warga sipil. Hal ini menunjukkan bahwa situasi keamanan di Papua masih sangat rentan, dan serangan terhadap pekerja proyek jalan ini hanya menambah daftar panjang kekerasan di wilayah tersebut.

Seiring dengan berlanjutnya penyelidikan, aparat keamanan terus mencari pelaku yang bertanggung jawab atas penembakan ini. Satgas TNI Habema telah mengultimatum kelompok OPM untuk menyerahkan diri dan senjata mereka.

Serangan ini bukan hanya mengundang duka bagi keluarga korban, tetapi juga menimbulkan pertanyaan besar tentang keamanan dan stabilitas di Papua. Masyarakat berharap agar pihak berwenang bisa segera mengatasi persoalan ini dan memberikan perlindungan yang lebih baik bagi warga sipil di daerah konflik.

Baca juga:

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.