Sorot Jogja – Dalam pernyataan yang sangat kontroversial, Duta Besar Israel untuk PBB, Gilad Erdan, mengekspresikan kemarahannya terhadap media yang memberitakan kematian jurnalis Al Jazeera, Shireen Abu Akleh, sebagai akibat dari serangan Israel. Erdan menyebut Abu Akleh sebagai penembak jitu Hamas, yang memicu reaksi keras dari berbagai kalangan.

Serangan Israel di Jalur Gaza pada Minggu (26/7/2026) menewaskan dua pejabat Hamas, yaitu Wael al-Ladawi dan Mayor Ramez Abu Zureiq. Serangan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan menyusul tewasnya Abdul Nasser al-Maqadma, kepala polisi Gaza, di serangan udara sebelumnya. Secara keseluruhan, sejak gencatan senjata yang mulai berlaku pada Oktober 2025, serangan Israel telah menyebabkan lebih dari 1.200 kematian di wilayah Gaza, dengan total korban sejak 7 Oktober 2023 mencapai 73.326 orang.

Baca juga:

Di Tepi Barat, situasi tidak kalah mengkhawatirkan. Pada hari yang sama, sekelompok pemukim Israel membakar dua masjid di desa Qusra dan mencoret-coret bangunan dengan grafiti, mengklaim bahwa mereka membalas dendam atas insiden yang melibatkan warga Palestina dan tentara Israel sebelumnya. Otoritas lokal menggambarkan insiden tersebut sebagai provokasi yang berbahaya.

Pernyataan Dubes Israel mengenai jurnalis Al Jazeera menimbulkan kontroversi di kalangan masyarakat internasional. Banyak yang mengecam tindakan tersebut, dan menganggapnya sebagai upaya untuk mendiskreditkan jurnalis yang berani meliput konflik di wilayah tersebut. Dikatakan bahwa Abu Akleh, yang dikenal sebagai suara penting bagi rakyat Palestina, tewas saat melaporkan pertempuran di Jenin. Erdan menegaskan bahwa semua informasi yang beredar mengenai kematiannya adalah salah.

Pengamat berpendapat bahwa pernyataan tersebut mencerminkan pola yang lebih besar dalam kebijakan Israel terhadap media yang meliput konflik. Dengan menuduh jurnalis sebagai bagian dari kelompok militan, narasi yang dibangun adalah untuk mengalihkan perhatian dari tanggung jawab atas serangan yang mengakibatkan kehilangan nyawa.

Baca juga:

Seiring dengan meningkatnya kekerasan di Gaza dan Tepi Barat, masyarakat internasional menyerukan penanganan yang lebih manusiawi terhadap konflik ini. Banyak yang menginginkan adanya penyelidikan independen terkait kematian Abu Akleh dan serangan terhadap warga sipil lainnya. Kebijakan yang diambil oleh pemerintah Israel dan reaksi Dubes Israel yang murka disalahkan atas insiden tersebut menciptakan ketegangan baru dalam hubungan internasional.

Bahkan, kebijakan Malaysia yang menolak pengakuan terhadap Israel juga menjadi sorotan. Duta Besar Malaysia untuk AS dipanggil oleh Kementerian Luar Negeri AS terkait kebijakan tersebut, yang menekankan bahwa Malaysia tetap konsisten dalam mendukung Palestina. Ini menunjukkan bahwa isu ini meluas ke diplomasi internasional, di mana negara-negara mempertahankan posisi mereka terhadap Israel dan Palestina.

Dengan situasi yang semakin memanas, banyak yang berharap agar dialog damai dapat segera tercapai. Namun, dengan pernyataan-pernyataan yang provokatif dan tindakan kekerasan yang terus berlanjut, harapan tersebut tampak semakin sulit untuk diwujudkan.

Baca juga:

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.