Sorot Jogja – WONOSOBO – Dalam sebuah pernyataan yang menggarisbawahi komitmen pemerintah terhadap isu lingkungan, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menargetkan bahwa masalah pengelolaan sampah di 24 kota besar akan tuntas secara bertahap pada tahun 2028. Dalam Dialog Masyarakat Sipil yang diadakan di Kabupaten Wonosobo, Zulkifli menegaskan bahwa kota-kota seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Tangerang akan menjadi fokus utama dalam penyelesaian masalah sampah ini.
“Yang akan kita selesaikan ada 24 kota dari total 40 kota yang menjadi prioritas,” ungkap Zulkifli. Dia menambahkan bahwa kota Palembang dan Medan juga akan dituntaskan lebih awal, yakni pada tahun 2027. Menurutnya, target penyelesaian 50 persen dapat tercapai pada tahun 2027, dengan sisa 50 persen lainnya akan diselesaikan pada tahun 2028. “Saat ini aturannya juga sedang kita bereskan,” jelasnya.
Masalah sampah bukan hanya berdampak pada kebersihan kota, tetapi juga memiliki konsekuensi serius bagi lingkungan, seperti pencemaran sungai dan penumpukan sampah di kawasan pesisir dan laut. Zulkifli menekankan, pengelolaan sampah yang baik menjadi salah satu syarat penting bagi Indonesia untuk menjadi negara maju. “Kalau kita tidak bisa mengurus sampah dan lingkungan, bagaimana Indonesia bisa menjadi negara maju?” tegasnya.
Untuk mendukung langkah ini, Menko Pangan telah meminta dukungan dari Presiden melalui penerbitan Keputusan Presiden (Keppres) yang memberikan kewenangan untuk koordinasi penanganan sampah dan lingkungan di bawah tanggung jawabnya. Dia menyatakan bahwa penanganan lingkungan sangat berkaitan erat dengan sektor pangan, sehingga koordinasi dilakukan bersama Kementerian Lingkungan Hidup.
Langkah awal yang diambil pemerintah adalah memperbaiki regulasi sebagai dasar untuk mempercepat penanganan sampah di berbagai daerah. Target penanganan tumpukan sampah berskala besar, atau yang sering disebut sebagai “gunungan sampah”, adalah dapat diselesaikan hingga 50 persen pada tahun 2027, dan sisanya dituntaskan pada tahun 2028.
Dengan perhatian serius terhadap pengelolaan sampah, pemerintah berfokus pada tempat pemrosesan akhir (TPA) dengan volume sampah lebih dari 1.000 ton per hari. Beberapa kawasan yang menjadi perhatian utama termasuk Bantargebang dan Jatiwaringin, serta lokasi lain yang selama ini menjadi sorotan, seperti di Bali.
Sementara itu, di Kota Bandung, krisis sampah juga menjadi isu yang mendesak. Pemerintah Kota Bandung melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata bekerja sama dengan WRI Indonesia meluncurkan kampanye “Tong Kalap, Tong Nyesa!” untuk mengurangi sampah makanan. Kampanye ini bertujuan untuk mengedukasi generasi milenial dan Z agar tidak menyisakan makanan, yang merupakan salah satu penyumbang utama sampah di kota tersebut.
Data menunjukkan bahwa Kota Bandung menghasilkan sekitar 1.600 ton sampah per hari, dengan 80 persen di antaranya adalah sampah makanan. Hal ini menjadi tantangan besar, terutama karena TPA Sarimukti telah beroperasi jauh di atas kapasitas idealnya.
Dengan berbagai upaya yang dilakukan, baik di tingkat pusat maupun daerah, harapan untuk menyelesaikan masalah pengelolaan sampah di kota-kota besar semakin mendekati kenyataan. Menko Pangan targetkan masalah sampah 24 kota besar tuntas pada 2028 menjadi salah satu langkah strategis untuk mewujudkan Indonesia yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.
