Sorot Jogja – Presiden Amerika Serikat Donald Trump datang ke Ankara untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO 2026, dan dalam kesempatan ini, Trump datang demi Erdogan, Ankara jadi panggung panas Ukraina dan Suriah. KTT yang berlangsung pada 7-8 Juli ini bukan hanya forum diplomatik biasa, tetapi juga menjadi tempat bagi Trump untuk menyampaikan kritik terhadap sekutu Eropa dan membahas isu-isu krusial seperti konflik di Ukraina dan Suriah.
Setibanya di Ankara, Trump mengungkapkan rasa kecewa terhadap beberapa negara Eropa yang dinilai tidak cukup mendukung upaya militer AS, terutama terkait ketegangan yang meningkat dengan Iran. Ia menyebutkan Italia, Prancis, dan Jerman sebagai negara-negara yang mengecewakan dan mempertanyakan komitmen mereka terhadap keamanan transatlantik. “Mengapa kita menghabiskan ratusan ribu dolar, dan mereka tidak datang membantu kita?” tanya Trump kepada wartawan.
Selain itu, dalam pertemuan bilateral dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Trump memuji Erdogan sebagai pemimpin yang luar biasa. Pengakuan ini menunjukkan hubungan pribadi yang kuat antara keduanya, meskipun ada perbedaan pandangan dalam beberapa isu. Erdogan, dalam kesempatan itu, menyatakan komitmennya untuk mendorong stabilisasi hubungan antara Iran dan AS, serta menekankan pentingnya diplomasi untuk meredakan ketegangan di kawasan.
Tidak hanya itu, selama KTT, Erdogan juga menjadwalkan pertemuan dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy. Hal ini menegaskan peran Turki sebagai kekuatan militer penting di dalam aliansi NATO, terutama dalam konteks perang di Ukraina. Turki telah berperan dalam mendukung Ukraina, dan pertemuan ini diharapkan dapat memperkuat kerjasama kedua negara.
Trump juga kembali mengangkat isu Greenland, menyatakan bahwa AS seharusnya memiliki kendali atas wilayah tersebut. Pernyataan ini memicu reaksi keras dari Denmark yang mengingatkan bahwa tindakan tersebut akan merusak hubungan dalam NATO. “Jika AS mengambil Greenland dengan paksa, itu akan menjadi akhir dari NATO,” tegas Perdana Menteri Denmark.
Ketegangan dalam aliansi NATO semakin terlihat ketika Trump mengekspresikan ketidakpuasannya terhadap negara-negara Eropa yang enggan terlibat dalam konflik di Timur Tengah. Ia bahkan menyinggung Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, yang dianggap tidak cukup mendukung inisiatif AS. “Saya tidak butuh bantuan setelah perang selesai. Saya ingin melihat apakah mereka akan ada untuk kita,” ujar Trump.
KTT NATO di Ankara ini juga berfungsi sebagai panggung bagi Erdogan untuk menunjukkan kepemimpinannya di hadapan pemimpin dunia. Dalam sambutannya, Erdogan menekankan pentingnya investasi pertahanan dan keamanan kawasan Euro-Atlantik, serta kesiapan Turki dalam menghadapi tantangan keamanan yang ada.
Dengan semua dinamika yang terjadi, Trump datang demi Erdogan, Ankara jadi panggung panas Ukraina dan Suriah menunjukkan betapa kompleksnya hubungan internasional saat ini. KTT ini bukan hanya sekedar pertemuan formal, tetapi juga mencerminkan ketegangan dan kerjasama yang ada di antara negara-negara anggota NATO.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.
