Sorot Jogja – Guntur Romli sentil strategi Gibran ajak mahasiswa kunker: Jadi bumerang rugikan pemerintah sendiri [titlebase] menjadi sorotan utama di jagat media sosial setelah terungkapnya dugaan suap yang melibatkan pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum Universitas Bung Karno. Kasus ini mencuat setelah seorang pengurus BEM, Muhammad Abdimaludin, mengaku menerima uang sebesar Rp20 juta dari oknum polisi untuk mengintervensi aksi demonstrasi mahasiswa di Istana Negara.
Menurut Guntur Romli, yang merupakan politisi dari PDI Perjuangan, tindakan tersebut sangat mencederai integritas gerakan mahasiswa. “Menyedihkan, padahal saya sempat memuji mereka yang katanya menolak tawaran makan malam dari Gibran. Tapi ternyata ada pemberian lain yang lebih menggiurkan daripada makan malam,” ujarnya, menyesalkan situasi yang terjadi.
Skandal ini bermula ketika Abdimaludin dan 14 perwakilan mahasiswa lainnya diterima oleh Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di Istana Wapres pada 15 Juni 2026 lalu. Dalam sebuah video yang beredar luas, Abdimaludin dengan blak-blakan mengakui menerima uang dari pihak kepolisian untuk tidak melanjutkan aksi di kawasan Istana Negara. Ia menyebutkan bahwa uang tersebut diserahkan oleh seorang oknum anggota polisi bernama Aan.
Guntur Romli menekankan pentingnya tindakan tegas dari pihak berwenang untuk mengusut tuntas oknum polisi yang terlibat dalam dugaan penyuapan ini. “Penegak hukum harus bertindak, itu pelanggaran,” tegasnya. Ia juga menambahkan bahwa tidak semua mahasiswa yang bertemu Gibran terlibat dalam kasus ini, melainkan hanya oknum tertentu saja.
Selain itu, Guntur Romli juga mencermati bahwa fenomena ini merupakan bagian dari modus yang lebih besar, yang ia sebut sebagai “MBG” atau Mahasewa Dibayar Gibran. Ia menganggap skandal ini menunjukkan adanya intervensi yang lebih luas terhadap gerakan mahasiswa dan mencederai prinsip-prinsip demokrasi yang seharusnya dijunjung tinggi.
Lebih lanjut, Guntur juga menyoroti bahwa kejadian ini bisa menjadi bumerang bagi pemerintah sendiri. Dengan adanya dugaan suap kepada mahasiswa, citra pemerintah yang diwakili oleh Gibran bisa tercemar, dan hal ini berpotensi merugikan dukungan publik terhadap pemerintahan saat ini.
Dalam konteks politik yang lebih luas, Guntur Romli juga menyinggung adanya dinamika antara partai-partai politik yang berusaha menyudutkan PDI Perjuangan menjelang Pemilu 2029. Ia meyakini bahwa serangan terhadap PDIP merupakan bagian dari upaya untuk menunjukkan loyalitas kepada penguasa, sehingga bisa mendapatkan posisi dan jatah kursi di kabinet mendatang.
Dengan situasi politik yang semakin rumit, Guntur Romli mengingatkan bahwa semua pihak harus menjaga integritas dan tidak terjerumus dalam praktik-praktik yang merugikan masa depan demokrasi di Indonesia. Ia berharap kasus dugaan suap ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak, terutama mahasiswa, untuk tetap menjaga idealisme dan tidak mudah tergoda oleh tawaran-tawaran yang tidak etis.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.
